Pada masa dahulu kala
hiduplah sepasang suami istri yang jauh dari keramaian. Mereka hidup dalam
keadaan miskin. Pekerjaan sehari-hari mereka mencari rotan. Walaupun
mereka telah berumah tangga, namun mereka belum mempunyai anak, karena itu
mereka selalu berdo’a agar mereka mendapat keturunan.
Suatu malam sebelum
tidur mereka berdo’a semoga apa yang didambakan diperolehnya. Setelah mereka
tertidur, sang istri bermimpi bahwa ia bertemu dengan seorang nenek tua, dan ia
mengatakan bahwa mereka akan mendapat seorang anak perempuan.
Setelah terbangun, sang
istri menceritakan mimpinya kepada suaminya dan kedua suami istri terdiam,
kemudian sang suami berkata “mudah-mudahan mimpi itu benar”.
Tidak lama kemudian,
memang mimpi menjadi kenyataan. Sang istri hamil. Setelah mengandung cukup
bulanan, lahirlah seorang anak perempuan cantik dan diberi nama Kemala.
Sejak kelahiran Kemala
telah membawa perubahan dalam rumah tangga mereka, biasanya suasana tenang dan
sunyi, tetapi sekarang telah terdengar tangis dan suara memanggil nama Kemala
dan mereka juga memanjakan Kemala, (manja) ia tidak dibolehkan bekerja,
sehingga Kemala menjadi gadis yang pemalas dan membuat Kemala tidak bisa
bekerja.
Setelah ayah Kemala
meninggal dunia, ibunya terpaksa bekerja membanting tulang untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Karena kerja terus menerus ibu Kemala jatuh sakit, sehingga
membuat mereka bertambah susah.
Pada suatu hari Kemala
dipanggil ibunya, dan berkata “Kemala! sekarang kamu sudah besar, bantulah mak!
cobalah kamu bekerja mencari nafkah, ibu sekarang tidak bisa bekerja karena
sakit”. “Apa mak? bekerja...? bukankah sejak kecil Kemala tidak boleh
bekerja...? apakah mak...tidak bisa berhutang lagi?” kata Kemala dengan kasar
kepada mamaknya. “Hutang kita sudah banyak, dan dengan apa hutang itu kita
bayar nanti” kata maknya dengan marah. Mendengar maknya marah Kemala pergi,
maknya terpanggil-panggil nama Kemala, tetapi tidak dipedulikannya, maknya
hanya dapat mengurut dada, ia bangkit dari balai-balai tempat tidur. Ia
tidak tahan lagi melihat dan menerima perlakuan anaknya yang durhaka itu. Lalu
ia berjalan menuju sebuah batu besar di tepi sungai. Ia meratapi nasibnya yang
malang, “sekarang aku ingin menghindar dari anakku yang durhaka itu. Jika batu
besar ini terbelah dua, aku rela ditelannya, biar aku terkurung di dalamnya”.
Perempuan itu berkata sendirian sambil menangis terisak-isak.
Sementara itu, Kemala
melihat maknya menangis dari kejauhan, melihat ibunya itu Kemala berteriak
memanggil maknya tetapi maknya tidak memperdulikan anaknya. Ketika itulah turun
hujan lebat serta petir yang berkilat-kilat, Kemala berlari mengejar ibunya.
Setelah Kemala dekat
kepada ibunya, tiba-tiba batu besar itu terbelah dua, perempuan itu segera
masuk kedalam batu yang terbelah itu sambil berkata:
Batu belah batu bertangkup
Batu tepian tempat mandiku
Maksud di hati tiada takut
Sudah demikian takdir janjiku
Baru saja selesai
berkata itu terjadilah hujan lebat petir dan kilat, batu besar pun merapat
kembali dan menelan seluruh tubuh perempuan itu Kemala melihat kejadian
itu dan rasa penyesalan Kemala menangis di dekat batu besar itu dan tinggallah
Kemala seorang diri.
Sumber: LAMBANG “Pelajaran Tulisan Arab Melayu”
untuk SLTP kelas 3
Bagusssss bangettt aku aja ngebacanya menangissssss😢😢😢😢😢😢😢😢
BalasHapusPosting Komentar