ARIANTOTLE
Pada masa dahulu kala hiduplah sepasang suami istri yang jauh dari keramaian. Mereka hidup dalam keadaan miskin. Pekerjaan sehari-hari mereka mencari rotan.  Walaupun mereka telah berumah tangga, namun mereka belum mempunyai anak, karena itu mereka selalu berdo’a agar mereka mendapat keturunan.

Suatu malam sebelum tidur mereka berdo’a semoga apa yang didambakan diperolehnya. Setelah mereka tertidur, sang istri bermimpi bahwa ia bertemu dengan seorang nenek tua, dan ia mengatakan bahwa mereka akan mendapat seorang anak perempuan.

Setelah terbangun, sang istri menceritakan mimpinya kepada suaminya dan kedua suami istri terdiam, kemudian sang suami berkata  “mudah-mudahan mimpi itu benar”.

Tidak lama kemudian, memang mimpi menjadi kenyataan. Sang istri hamil. Setelah mengandung cukup bulanan, lahirlah seorang anak perempuan cantik dan diberi nama Kemala.

Sejak kelahiran Kemala telah membawa perubahan dalam rumah tangga mereka, biasanya suasana tenang dan sunyi, tetapi sekarang telah terdengar tangis dan suara memanggil nama Kemala dan mereka juga memanjakan Kemala, (manja) ia tidak dibolehkan bekerja, sehingga Kemala menjadi gadis yang pemalas dan membuat Kemala tidak bisa bekerja.

Setelah ayah Kemala meninggal dunia, ibunya terpaksa bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena kerja terus menerus ibu Kemala jatuh sakit, sehingga membuat mereka bertambah susah.

Pada suatu hari Kemala dipanggil ibunya, dan berkata “Kemala! sekarang kamu sudah besar, bantulah mak! cobalah kamu bekerja mencari nafkah, ibu sekarang tidak bisa bekerja karena sakit”. “Apa mak? bekerja...? bukankah sejak kecil Kemala tidak boleh bekerja...? apakah mak...tidak bisa berhutang lagi?” kata Kemala dengan kasar kepada mamaknya. “Hutang kita sudah banyak, dan dengan apa hutang itu kita bayar nanti” kata maknya dengan marah. Mendengar maknya marah Kemala pergi, maknya terpanggil-panggil nama Kemala, tetapi tidak dipedulikannya, maknya hanya dapat mengurut dada,  ia bangkit dari balai-balai tempat tidur. Ia tidak tahan lagi melihat dan menerima perlakuan anaknya yang durhaka itu. Lalu ia berjalan menuju sebuah batu besar di tepi sungai. Ia meratapi nasibnya yang malang, “sekarang aku ingin menghindar dari anakku yang durhaka itu. Jika batu besar ini terbelah dua, aku rela ditelannya, biar aku terkurung di dalamnya”. Perempuan itu berkata sendirian sambil menangis terisak-isak.

Sementara itu, Kemala melihat maknya menangis dari kejauhan, melihat ibunya itu Kemala berteriak memanggil maknya tetapi maknya tidak memperdulikan anaknya. Ketika itulah turun hujan lebat serta petir yang berkilat-kilat, Kemala berlari mengejar ibunya.

Setelah Kemala dekat kepada ibunya, tiba-tiba batu besar itu terbelah dua, perempuan itu segera masuk kedalam batu yang terbelah itu sambil berkata:

Batu belah batu bertangkup
Batu tepian tempat mandiku
Maksud di hati tiada takut
Sudah demikian takdir janjiku

Baru saja selesai berkata itu terjadilah hujan lebat petir dan kilat, batu besar pun merapat kembali dan menelan seluruh tubuh perempuan itu  Kemala melihat kejadian itu dan rasa penyesalan Kemala menangis di dekat batu besar itu dan tinggallah Kemala seorang diri.


Sumber: LAMBANG “Pelajaran Tulisan Arab Melayu” untuk SLTP kelas 3

1 Komentar

  1. Bagusssss bangettt aku aja ngebacanya menangissssss😢😢😢😢😢😢😢😢

    BalasHapus

Posting Komentar