Sabtu, 21 Februari 2026
(03 Ramadhan 1447 H)
![]() |
Gambar dibuat dengan AI |
Hi guys!
Apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat selalu ya!
Sebelumnya aku ingin mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan! Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan. Semoga kita bisa memanfaatkan kesempatan di bulan mulia ini sebaik-baiknya, memperbanyak ibadah, dan mencapai hari kemenangan dalam keadaan yang diridhai-Nya. Aamiin.
Aku juga mohon maaf kepada teman-teman dan kepada diriku sendiri karena sudah cukup lama aku tidak menulis di sini. Aku sebenarnya ingin sekali menulis, sudah ada beberapa hal yang mau kutuliskan, namun... beberapa bulan terakhir aku lumayan sibuk dengan kerjaan ditambah hal-hal lain yang rasanya seperti membuatku terblock dari kegiatan tulis menulis ini.
Oke, kali ini aku ingin menulis seperti yang tertulis di judul. Mungkin teman-teman bertanya, "Apa maksudnya ya?", "Siapa Sa'di Shirazi?", "Siapa Peter Parker? Bukannya dia Spiderman ya?"
Yap! Tepat sekali 😅 Keliatan ga berhubungan sama sekali kan? Nah, inilah yang ingin kuceritakan.
Selama beberapa bulan terakhir ini, aku mengalami semacam krisis, sesuatu yang membuatku tertekan, bingung dengan masa kini dan masa depan, hingga bingung dengan diri sendiri sampai tahap dimana pikiran terasa begitu berkabut. Bahkan untuk hal-hal yang menjadi hobiku (seperti menulis dan membaca buku) itu terasa terblock.
Sampai akhirnya, sekitar sebulan yang lalu, dari pola yang terjadi, aku merasakan indikasi bahwa untuk mengatasi hal ini perlu upaya menyelam ke dalam diri dan menemukan who i truly am. Aku pun mencari berbagai artikel mengenai self development, self esteem, passion, feeling lost, dsb juga sambil dengar-dengar podcast atau video tentang itu.
Dan...setelah pencarian itu, langkah pertama yang kulakukan untuk mengatasi hal ini adalah memutus hal-hal yang tidak lagi sesuai denganku sekaligus mencoba terhubung kepada apa yang menjadi hobiku. Hal yang kuputus pertama itu adalah rokok. Jadi, tanggal 05 Sya'ban 1447 H (aku tidak ingat tanggal masehinya), aku memutuskan berhenti merokok karena aku merasa banyak pintu yang tertutup karena aku merokok dan semakin kesini aku semakin merasa "No, it's not truly who I am" [ya, mungkin teman-teman yang mengikuti blogku sejak lama ingat kalau dua tahun lalu tepat di bulan februari juga, aku pernah menuliskan tentang "Aku Seorang Perokok" dan betapa waktu itu aku merasa itu bagian dari diriku. Tapi perjalanan mengenal diri ternyata membawaku ke kesimpulan yang berbeda].
Lalu pada tanggal 07 Sya'ban 1447 H aku mulai menulis diary kembali, bukan secara digital [karena aku menyadari, HP juga menjadi faktor yang memperkuat distraksi dan kebingunganku], tapi aku kembali menulis sebagaimana dulu yaitu dengan buku dan pena. Kemudian, aku kembali mengambil buku bacaanku yang tersimpan [aku menyimpannya, karena aku merasa overload secara pikiran dan yang kubutuhkan waktu itu dengan istirahat sejenak dari input yang membebani pikiran dan melakukan hal yang menenangkan hati seperti Zikir, terutama Zikir Sayyidah Fatimah Az-Zahra], satu buku yang menjadi pilihanku adalah Manusia Seutuhnya karya Murtadha Muthahhari.
Hingga, sampai di sekitar seminggu yang lalu. Entah kenapa aku tiba-tiba suka melihat-lihat video tentang Spiderman. Maksudku, bukan menonton dia sekedar sebagai superhero, tapi aku merasa ada sesuatu yang relate antara aku dan Peter Parker. Aku seakan melihat diriku dalam dirinya, terutama Spiderman generasi pertama yang diperankan Tobey Maguire. Lebih spesifiknya di film Spiderman-2 dimana Peter Parker yang diperankan Tobey kehilangan kekuatannya karena mengalami tekanan batin, namun meski di saat-saat seperti itu, dia tetap menolong orang dimana waktu itu ada anak terjebak dalam kebakaran. Scene ini benar-benar menggetarkan hatiku. Kamu tau? Superhero itu menjadi Superhero bukan hanya karena kekuatan yang dia miliki, tapi kekuatan hati untuk menolong orang. Seperti di scene itu, meski sedang kehilangan kekuatan, tapi jauh dari lubuk hatinya, kekuatan untuk menolong orang tetap ada. Inilah Superhero sesungguhnya. [FYI, Spiderman adalah Superhero yang kufavoritkan. Spiderman yang berkesan bagiku itu adalah Spiderman versi Tobey Maguire (film masa kecil ketika SD) lalu The Amazing Spiderman versi Andrew Garfield (film pas masa-masa SMP). Masing-masing seperti punya nuansa tersendiri, dimana yang versi Tobey terasa nostalgic, sementara versi Andrew terasa emotional. And... you know? Waktu kecil aku ingin jadi superhero Spiderman, tapi ketika dewasa ini, rasanya aku lebih ingin jadi seperti Peter Parker].
Nah, ada dua kata-kata di film Spiderman ini yang begitu membekas bagiku:
1. "With great power comes great responsibility" (kekuatan yang besar datang bersama tanggung jawab yang besar pula) —Uncle Ben
2. "Being brilliant is not enough. You have to work hard. Intelligence is not a privilege, it's a gift. And you use it for the good of mankind." (Menjadi cerdas saja tidak cukup, kamu harus bekerja keras. Kecerdasan bukanlah hak istimewa, melainkan anugerah. Dan kamu harus menggunakannya untuk kebaikan umat manusia) —Dr. Otto Octavius
Kedua quotes di atas semakin memantik semangatku dalam menelaah diri sendiri yang kucurahkan di dalam diary. Dan syukur Alhamdulillah, dengan menulis seperti ini, beberapa hal menjadi lebih clear dari sebelumnya mengenai dimensi diriku sendiri. Setiap manusia punya keunikan masing-masing, punya potensi dan kekuatannya masing-masing, sekarang adalah bagaimana caranya memaksimalkan potensi itu untuk menyebarkan kebaikan kepada orang-orang.
Setelah menemukan kedua quotes ini, aku bertanya-tanya apakah ada Puisi Persia yang mengandung makna serupa? Setelah berbagai pencarian di internet, aku teringat ada tab chrome yang terbuka sejak lama dari website Persian Language Online tentang puisi-puisi Sa'di Shirazi, salah satunya mengenai Bani Adam. Dalam puisi itu dijelaskan bahwa anak-anak adam adalah bagian satu sama lain dan kepedulian terhadap sesama adalah syarat manusia itu menjadi manusia. Aku telah menuliskan dan menerjemahkan puisi tersebut di blogku yang wordpress dengan judul Sa'di Shirazi: Siapa Tak Peduli Sesama, Tak Layak Disebut Manusia.
Nah, pas menuliskan bagian Note dari postingan itu, aku seketika teringat kata-kata Murtadha Muthahhari dalam bukunya yang sedang kubaca, Manusia Seutuhnya. Beliau menuliskan bahwa manusia disebut manusia karena memiliki dua derita: derita kerinduan untuk mendekat kepada Allah SWT dan derita merasakan penderitaan sesama manusia. Kedua derita inilah yang menjadikan kita manusia. [Entah kenapa ketika menulis bagian paragraf itu kemarin... dadaku seakan melepaskan sesuatu yang membuat air mataku mengalir seketika].
Semua yang terjadi ini, yang kutemukan ini, baik dari Peter Parker maupun Sa'di Shirazi dan juga Murtadha Muthahhari menunjukkan titik poros yang sama, yaitu pentingnya empati dan menolong sesama dengan segenap kemampuan yang kita miliki.
Namun, dari semua itu, yang paling dalam kurasakan adalah pendapat Murtadha Muthahhari yang lebih lanjut mengatakan bahwa segenap upaya yang kita lakukan dalam menolong sesama haruslah didasarkan pada kerinduan mendekat kepada Allah SWT. Artinya apa? Semuanya berlandaskan Tauhid dan diniatkan ikhlas karena Allah.
"Selama kita tidak mengenal derita manusia untuk Tuhannya, dan selama manusia tidak menuju Tuhannya, maka kemanusiaannya tidak akan bisa mencapai apapun dan semuanya akan sia-sia. Kemanusiaan adalah derita untuk Tuhan, dan derita insani terwujud dari derita ilahi" —Murtadha Muthahhari
Selanjutnya kita masuk ke titik krusial, yaitu memahami diri sendiri dan bagaimana caranya kita mengendalikan diri. Sebagaimana penjelasan Murtadha Muthahhari tentang Insan Kamil (Manusia Sempurna): "Mereka yang dapat menyelamatkan manusia adalah orang-orang yang sudah berhasil menyelamatkan dirinya terlebih dahulu, yaitu dari nafsu amarrahnya dan dari keterbatasan dirinya. Selama ia belum selamat dari belenggu dirinya, sampai kapanpun ia tidak akan selamat dan terbebas dari pasungan alam dan tawanan manusia-manusia lain".
Secara keseluruhan... ya... bisa terlihat adanya koneksi lintas dimensi dan zaman, dari karya fiksi ke dunia nyata, dari masa lalu hingga modern. Semuanya memiliki benang merah yang jika dirangkum menjadi "kenali diri sendiri, bebaskan ia dari belenggu diri, dan maksimalkan potensi diri untuk menolong orang dan menyebarkan kebaikan dengan dilandaskan kerinduan untuk mendekat kepada Tuhan Semesta Alam."
Mungkin... sampai disini dulu postinganku kali ini. Semoga bisa mendapat gambaran mengapa aku seakan menghilang dari blog ini selama berbulan-bulan. Ada beberapa hal yang kujelaskan, namun selebihnya aku tidak tau bagaimana cara menjelaskannya. Namun inilah, sejauh penemuan yang bisa kujelaskan. Aku pun hingga kini masih mencoba memahami diri, belajar untuk menjadi sahabat bagi diri sendiri. Aku menulis tentang ini sebenarnya lebih sebagai reminder untuk diri sendiri yang seringkali khilaf ini. Meski demikian, semoga dari pengalamanku ini, teman-teman juga bisa mendapatkan hikmahnya.
Terima kasih sudah membaca. See you next time!
Note: Rasulullah SAW dan Ahlulbait nya adalah real Superhero yang patut dijadikan teladan. Kita tidak bisa mengeluarkan jaring atau nempel di dinding seperti Spiderman, ya kan? tapi kita bisa meneladani para teladan terbaik di muka bumi ini, dan semoga dengannya kita bisa menjadi penghubung kebaikan ke orang lain juga.

Posting Komentar