ARIANTOTLE


Tekanan (p) adalah satuan fisika untuk menyatakan gaya (F) per satuan luas (A).
Begitulah definisi yang diajarkan di sekolah tentang apa itu Tekanan. Memang benar pernyataan itu adanya. Namun, disini kita akan membahas tentang makna lain akan Tekanan tadi.
Seperti yang kita ketahui, beberapa kata yang kita pahami kini dapat berubah makna apabila diucapkan dikondisi tertentu. Seperti halnya kata pedas yang kita ketahui memiliki makna dalam hal indera pengecap. Dalam kondisi tertentu, kata pedas ini dapat berubah makna menjadi menusuk, menyakitkan dalam hal ini terkait pada indera pendengaran. Seperti: Suatu ketika anda mendengar seseorang yang mencaci maki seseorang lainnya dengan ucapan "Hei, dasar babu tak berguna" atau "Dasar keledai!", bukankah itu sangat mengiris hati anda walaupun sasaran orang tersebut bukan anda? Kemudian anda pun berkata dalam hati "Kata-katanya pedas sekali. Semoga ia segera beristighfar".
Kembali ke topik, tekanan yang kita bahas disini ialah tekanan dalam hal yang tak terinderai. Jika kita meletakkan sebuah batu diatas tumpukan pasir, kita akan melihat cekungan diatasnya yang diakibatkan oleh tekanan batu tersebut. Dalam hal ini, anda mengetahui bahwa itu tekanan dan indera andalah sebagai perantaranya. Namun, misalnya anda sedang dalam krisis ekonomi, maupun hal lainnya yang begitu berat untuk anda hadapi, maka disinilah tekanan tersebut berubah maknanya. Anda mengetahui bahwa itu tekanan, namun indera apakah yang menjadi perantara dalam penyampaian informasi akan pengetahuan tersebut? meski kita tidak mengetahui secara pasti indera apakah yang berperan, namun secara pasti kita tahu, akal dan perasaan lah yang menanggapinya.

Bagaimana hal ini terjadi?
Ini terkait pada informasi pertama yang kita dapati dari perasaan atas definisi tekanan yang kita dapati tersebut. Jikalau kita tidak pernah mengetahui akan apa itu perasaan yang kita hadapi (yaitu tekanan), maka tentulah informasi tersebut akan menjadi lain dan bahkan mungkin anda tidak akan merasakan apa itu tekanan. Maka, apabila informasi tersebut telah ada dalam pikiran, akal kita akan menanggapi informasi tersebut dan membuka lembaran pengetahuan informasi tersebut, sehingga kita akan mengetahui perasaan dan akan merasakan perasaan tersebut. (Anda bisa membayangkan sebuah informasi yang merupakan cikal bakal tekanan itu merupakan seseorang berkulit hijau dan ia menemui anda, disini anda merupakan akal. Maka anda pun akan tahu bahwa ada manusia berkulit hijau di bumi ini. Dan jika seseorang tersebut tidak pernah menemui anda. Maka anda pun tidak akan pernah mengetahuinya dan mengenalnya). Dan inilah masalahnya, disini kita telah mengetahui informasi yang kini bersarang dalam pikiran kita terhadap perasaan yang dinamakan tekanan itu. Sesungguhnya, perasaan akan tekanan itu ialah perasaan yang tidak mengenakkan, bukankah begitu? maka disini kita akan mencari alternatif untuk tidak merasakan perasaan itu walaupun kita telah mengetahui bagaimana perasaan itu.

Bagaimana caranya?
Mari kita berimajinasi sejenak. Tadi, kita telah membayangkan bahwa tekanan kita samarkan sebagai manusia hijau dan anda adalah akal. Jika manusia hijau itu ialah makhluk jahat, maka kini bayangkan anda berada dalam benteng dan anda memiliki senjata untuk mengusirnya. Dan kita masukkan disini bahwa dia pun kabur.
Terus apa kaitannya?
Disini, kita dapati satu hal yang belum kita imajinasikan sebelumnya, yaitu sebuah benteng. Anda tahu sendirikan bahwa benteng berguna dalam perlindungan? Maka, kita akan mebuat benteng sekarang. Benteng tak sebenarnya.
Sesuai definisi dari benteng tersebut, kita akan menciptakan sesuatu untuk melindungi akal pikiran kita daripada kehadiran tekanan itu. Namun, benteng disini bukan berarti suatu dinding tinggi besar panjang yang terbuat dari bahan keras. Benteng disini ialah segala hal yang dapat digunakan untuk menahan dan mengusir kehadiran tekanan tersebut.

Baiklah, mari kita berimajiasi kembali sejenak. Bayangkan anda mempunyai kekuatan untuk menciptakan benda dan benteng yang ada tadi hanya akan ada bila anda mengeluarkan kekuatan anda tersebut. Dengan kefokusanlah anda dapat mengeluarkan kekuatan anda.

Saya tahu, fokus ialah kuncinya!
Tepat sekali, disini anda akan menghadirkan apa yang akan dinamakan fokus. Seperti yang kita ketahui, fokus yang kita gunakan saat ini ialah fokus yang memiliki makna terhubung dengan kehadiran objek yang dapat kita kalimatkan seperti "Fokus Terhadap X" dengan X ialah Objek. Sama halnya seperti imajinasi kita yaitu "Fokus Terhadap Kekuatan". Maka, disini kita pun menyinggung tentang kehadiran objek. Objek yang kita ketahui ialah hal yang merupakan titik fokus, tujuan, ataupun makna diri daripada suatu subjek. Seperti: saya adalah manusia (saya: subjek, manusia: makna diri-dapat juga diartikan sebagai keterangan yang terkandung daripada subjek tersebut), kita membaca awan (kita: subjek, awan: titik fokus-hal yang menjadi apa yang ditelusuri).

Kini, kita telah mengetahui apa itu objek. Namun, disini masih belum kita sentuh apa itu objek daripada kefokusan kita dalam hal membentengi diri dari tekanan itu.
Dan disini saya akan membawa anda ke masa lalu anda tapi anda sendirilah yang membimbingi diri anda ke masa lalu anda tersebut. Dengan pernyataan  "Pernahkah anda melupakan suatu perasaan yang sedang anda hadapi hanya karena anda sedang melakukan hobi yang anda sukai?", saya resmikan anda bertravelling ke masa lalu anda...
9 8 7 6 5 4 3 2 1...Selesai
Baiklah, bagaimana? apakah anda telah menemukan jawaban? Sebagian besar pasti menjawab "Entah" beserta makna lain yang sama dengan kata tersebut, sedangkan yang lain menjawab "Pernah" beserta makna lain yang sama dengan kata tersebut, dan yang lainnya lagi menjawab "Lupa" beserta makna lain yang sama dengan kata tersebut. Namun intinya sebenarnya anda pernah mengalaminya. Jadi, disini  kita telah menemukan objek terhadap fokus yang kita perbincangkan yaitu "Hobi".

Dalam penerapannya, bila kita tengah menghadapi suatu tekanan, maka kita mestilah mengalihkan dan memfokuskan diri kita terhadap hobi kita dan dengan segera hobi kita akan menciptakan suatu benteng yang dapat menahan serangan daripada  tekanan tersebut. Namun, memang tekanan tersebut dapat dihindari, tetapi kita juga harus mengetahui bahwa darimanakah asal tekanan tersebut. Asal tekanan tersebut ialah berasal dari masalah yang dihadapi. Dan definisi dari masalah itu sendiri ialah suatu keadaan dimana terjadinya hal yang tidak sesuai dengan harapan dan menciptakan situasi membingungkan. Sehingga ketidaksesuaian antara masalah dan perasaan akhirnya melahirkan tekanan. Jadi dapat disimpulkan bahwa masalah menciptakan tekanan (Induk daripada Tekanan). Dan masalah bukanlah untuk dihindari namun untuk dihadapi. Dan dengan mengalihkan tekanan, kita pun sebaiknya menghadapi masalah tersebut.

Jadi, kesimpulannya ialah "Tekanan berasal daripada masalah dan dapat dialihkan dengan memfokuskan diri terhadap hobi yang disukai namun masalah yang merupakan asal daripada tekanan tersebut haruslah dihadapi bukan dihindari".


Sumber: http://fakhri77.mywapblog.com/tekanan-2.xhtml

Post a Comment