ARIANTOTLE

Bab 1
"Ha?"

Aku tak mengerti mengapa dunia menjadi gelap seperti ini. Ya! ketika kumelihat langit, langit seperti tertutup awan gelap tebal, namun disertai kegelapan dibaliknya, seperti....tiada matahari yang menyinari. Aku mendayung sepedaku, ya sekedar untuk berjalan-jalan. Aku berjalan jalan menyusuri jl.kemuning yang merupakan jalan didepan rumahku walaupun terpisah cukup jauh. Lalu aku membelok ke kanan dan berjalan ke selatan menyusuri lanjutan jl.Tanjung Sari. Namun seketika aku merasakan hawa aneh, mencekam dan terkesan horror. "Sepertinya ada sesuatu yg gak bener ni. Pulang aja lah" ujarku dengan nada lemah. Suasana yang semulanya sunyi mendadak diselimuti gema rrggghh dari belakangku ketika ku membalik ke arah utara. Dan ketikaku membalikkan kepalaku kebelakang, aku mendapati sesosok makhluk dengan mata melotot keatas dan berdarah disertai mulut yg juga mengeluarkan darah, wajahnya yg habis terkelupas juga mengeluarkan darah. Ia memakai pakaian compang camping nan lusuh dan kotor, berjalan lambat bak menyeret kakinya yang lain. Yang dapat ku katakan hanya "Ha?" dengan gemetaran akibat kaget, aku pun mendayung sepedaku kembali kerumah sambil teriak di tengah jalan yg aku lalui berupa "Lari...lari semua...! ada makhluk aneh muncul di timur!", seketika daerah yang kulalui dengan teriakan itu dipenuhi oleh keributan dan orang-orang memasuki rumahnya dan bersiap siap untuk mengungsi. Aku pun terus mendayung hingga tiba ku di rumah dan berteriak "Ma'! Cepat kita harus pergi!", dan kuucapkan sebelum kusampai di depan pintu. Aku pun masuk kerumah sambil menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada keluargaku.

Bab 2
"Riuh"

Aku sekeluarga pun segera berkemas dan mempersiapkan apa saja yang harus dibawa, sedangkan di luar rumahku terdengar teriakan orang dari jauh. Namun ku tidak mendengar teriakan apapun dari sekitar rumahku dan aku berfikir mungkin tetanggaku sudah pergi semua. Aku berlari ke dapur, namun sebenarnya tujuanku bukan ke dapur, melainkan daerah kecil di dalam rumahku yang berisikan barang barang lama yang tersimpan. Diatas tumpukan, aku melihat sekarung kertas yang penuh terisi. Aku pun segera mengambil itu, lalu berlari ke dapur dan mengambil sesuatu seperti penggorengan dadar dengan permukaan yang cukup luas yang dimaksudkan untuk dapat menepak kepala makhluk itu.Cukup aneh dan sadis kelihatannya namun ini untuk pertahanan diri. Tiba-tiba, kakiku melangkah sendiri keluar rumah dan menuju ketempat dimana makhluk itu berada. Dan ternyata disana telah dipadati oleh orang ramai. Dan aku melihat seorang ibu ibu yang sedang duduk ditepi jalan yang terdapat tas biru tepat disampingnya. Namun bukan ibu ibu itu yang aku incar. Aku pun berjalan diantara orang ramai dan ternyata daerah semakin rapat sesak oleh orang orang tepatnya di depan sebuah rumah luas yang tak beratap. Alhasil dengan susah payah ku melewati kesempitan, aku dapat memasuki rumah itu yang ternyata telah berisi oleh orang orang dan banyak polisi yang mengejar makhluk yang kutemui tadi dan ternyata ada satu lagi makhluk yang lain. Mungkinkah makhluk ini menyebarkan sebuah wabah menular? itulah yang ada dalam benakku. Aku melihat seorang polisi yang mengejar mahluk yang kutemui itu berbalik digigit oleh makhluk itu tepatnya di daerah leher. Seketika polisi itu bergetar dan tangannya menunjukkan urat urat yang tampak jelas, matanya melotot merah mengeluarkan darah dan mulutnya menunjukkan gejala serupa dengan makhluk yang menggigitnya tadi."Ini vampire apa zombie?" tanyaku dalam hati. Namun, aku segera menyadari bahwa makhluk serupa itu telah menjadi tiga orang dan sepertinya mereka akan mengincar kami semua yang masih bernyawa. Aku pun berbalik keluar sambil teriak "Oh tidak! lari..lari semua....!pergi!" dan seluruh orang yang memadati daerah itu termasuk polisi yang masih hidup lainnya segera berlari dan meninggalkan daerah itu. Aku pun berlari menyusuri jalan kerumahku dan tidak kusangka aku bertemu dengan ayah dan adikku yang paling bungsu. "Eh, bapa' dengan usuf ngapain disini? ayo pergi cepat" kataku kepada mereka. Aku pun menggenggam tangan adikku dan tangan adikku yang satunya digenggam oleh ayahku.

Bab 3
"Aspal Berdarah"

Aku, adik dan ayahku berlari kearah rumahku, namun aku tak faham mengapa daerah yang kulewati ini berbeda dengan jalan kerumahku. Jalanan ini lurus namun memiliki tikungan siku-siku yang banyak dan juga memiliki simpang empat dimana-mana seakan akan ilalang tinggi dan rerumputan tumbuh persegi panjang ditengah tengah daerah tak beraspal. Kami segera berlari pelan menyusuri jalanan yang membingungkan ini hingga tiba-tiba aku terhentak ke belakang karena seseorang di belakangku berhenti. Aku memalingkan kepala ke belakang dan melihat ayahku terpatung seakan akan menjadi batu. Namun pandanganku teralihkan oleh dua makhluk dengan mata berdarah yang berada tepat di belakang ayahku.
"Pa'! ayo pergi ada makhluk aneh dibelakang bapa'!" teriakku namun ayahku tetap mematung.
Aku pun melepas gandengan usuf, adikku dan menarik tangan ayahku yang tidak menggenggam tangan usuf. Namun ayahku tetap mematung dan pada akhirnya.. "Oh tidak!" seorang makhluk menggigit leher ayahku disusul makhluk satunya lagi. Aku melihat darah keluar dari mata ayahku dan melotot merah tajam disertai darah yang juga meleleh keluar dari mulutnya. Aku pun segera melepaskan gengggaman ayahku kepada usuf. Cukup sulit untuk melepaskannya karena ayahku menggenggam dengan keras. Alhasil genggaman ayahku terlepas setelah ku bersusah payah melepaskannya. Kini, ayahku telah berubah menjadi makhluk serupa dengan yang menggigitnya. Dan masih bertanya dalam benakku "Mereka vampire atau zombie?". Aku pun berlari menyusul adikku yang sudah lari duluan setelah genggaman ayahku tadi lepas.
"Usuf.. tunggu...!" teriakku ketika adikku berlari jauh dariku dan membelok ke kiri hilang dari pandangan karena terhalang ilalang yang tinggi. Tiba-tiba adikku kembali keluar dari jalan yang ia lewati ke kiri tadi dan dibelakangnya ada dua makhluk aneh yang terlihat seperti dua orang kakak-kakak. Ternyata kakak-kakak itu juga telah berubah menjadi makhluk aneh yang kini mengejar adikku.
"Usuuufff...!!" teriakku sambil berlari menggapai adikku. Namun, makhluk itu sudah duluan menggigit adikku dan seketika adikku juga berubah menjadi makhluk aneh itu sebelum aku menggapainya. Aku pun berlari menjauh dari mereka sambil menangis dan melihat ke sekitar. Ternyata makhluk aneh itu sudah menjadi banyak dan darah banyak menetes di jalanan beraspal itu. Aku segera berlari dan menjauh dari daerah ini.

Bab 4
"Dinding Melingkar"

Aku terus berlari dan menjauh hingga aku tidak melihat adanya makhluk aneh yang seperti gabungan zombie-vampire itu lagi.Aku pun tidak tahu bagaimana nasib ibuku dan anggota keluargaku yang lain.Tiba-tiba aku mendengar suara dan dari belakang aku melihat sebuah mobil hitam yang terlihat cukup tua yang ternyata berjalan dan berhenti disampingku. Dari mobil itu turun kakek kakek yang sepertinya keturunan tionghoa yang masih manusia dan menarikku masuk kedalam mobilnya. Aku tidak tahu mau dibawa kemana. Setelah beberapa lama perjalanan, kakek kakek itu menurunkanku disebuah kota. "Sebenarnya kakek itu siapa ya? dan dimana ini?" tanyaku dalam hati. Aku melihat ada sebuah mall dan segera aku melangkah masuk kedalamnya.
"Oh tidak" ujarku ketika banyak makhluk aneh itu disini dan juga banyak manusia yang masih hidup mencoba melawannya. Aku pun segera masuk dan melihat ada seorang makhluk itu yang mencoba mendekati seorang bapak-bapak tionghoa. Aku pun segera menebas lehernya dengan tanganku hingga ia terjatuh, namun ia bangkit lagi. Aku pun membawa bapak-bapak itu mundur kebelakang. Aku juga tidak tahu dan tidak ingat dimana penggorengan dadar dan sekarung kertas yang kubawa itu. Tiba-tiba aku mendengar kaca pecah dan ketika kumencari dimana asalnya, aku melihat banyak polisi yang juga terlihat seperti orang tionghoa. Mereka menebas dan membunuh makhluk-makhluk aneh itu dan membawa kami semua yang masih manusia kesebuah tempat yang terdindingi oleh tembok tinggi yang melingkar. Aku melihat banyak orang yang ketakutan di dalam dan semuanya orang tionghoa. Aku pun mulai berfikir bahwa aku sekarang berada di China. Aku melihat ibu-ibu tionghoa yang berjilbab, sepertinya ia islam. Aku pun mendekat padanya dan bertanya bagaimana ia disini dan bagaimana dengan keluarganya. Dan aku juga kaget ketika ia menjawab dalam bahasa Indonesia. Aku semakin bingung sebenarnya aku ada dimana. Apakah masih di Indonesia atau di China. Aku pun tersenyum padanya dan ibu ibu itu mencium keningku. Aku pun pamit untuk berjalan kedaerah lainnya. Ibu ibu itu membolehkan. Aku pun berjalan ke dinding yang dekat denganku. Aku melihat banyak jari-jari yang menggenggam puncak dinding diatas sana, namun terlepas kembali. Jari-jari itu berasal dari luar. Sepertinya telah sangat banyak makhluk aneh itu diluar sana. Aku pun membalikkan tubuhku dan melihat manusia manusia didalam sini sedang ketakutan. Aku tidak tahu mengapa dalam pandanganku pada seseorang, aku melihat bahwa muka mereka terlihat seperti muka orang yang kukenal, seperti tetanggaku bahkan ibuku. Namun ketika aku mendekat, akhirnya kusadari bahwa itu hanya ilusi dan terlihat bahwa muka orang tersebut berbeda. Aku pun merenung sambil berdiri dan bersandar pada dinding tinggi itu.

Bab 5
"Riuh 2.0"

Namun, seketika aku melihat suara yang sangat ribut dari luar dinding dan tiba-tiba ada salah satu makhluk aneh yang membawa senjata yang kelihatannya seperti senapan turun dari langit. Sepertinya pasukan mereka dari luar sana melemparkannya kedalam sini dengan sesuatu.Suasana dalam dinding ini langsung kacau dan banyak orang berlari menjauh darinya. Makhluk aneh itu dengan segera membidik aku. Aku pun segera menebas senjatanya dengan tanganku hingga senjata itu terlempar lalu aku pun menebas leher makhluk itu. Namun, lehernya yang telah patah itu tidak membuatnya terjatuh ketanah. Ia lalu mendorongku dan aku pun terjatuh ketanah. Ia mengambil senapannya dan langsung membidikku. Sebelum ia melepaskan tembakan, aku berhasil menendang senapan itu dalam keadaan telentang di tanah hingga senapan itu terlembar kembali. Dan syukurlah ada polisi yang datang dan segera membunuhnya.
"Xie xie" ucapku kepada polisi tersebut dan ia hanya mengangguk.

Bab 6
"Hilang"


Aku pun melihat ke sekeliling dan tiba-tiba yang aku lihat segera menjadi gelap dan tergantikan dengan pemandangan yang lain. Ya! aku telah bangun dari mimpiku yang cukup aneh ini dan pemandangan yang terlihat hanyalah pemandangan kamarku, orang-orang tionghoa dalam dinding itu juga sudah tidak ada. Aku melihat kearah jendela yang ternyata telah tersinar matahari diluar sana. Aku pun segera bangkit dan berjalan keluar lalu melihat kearah jam dinding yang tergantung disana, pukul 9 lewat! ternyata aku kesiangan. Aku pun kembali ke kamar dan berbaring kembali mengingat mimpiku ini.Aku pun tersenyum sendiri mengingat bahwa mengapa aku memilih penggorengan dadar untuk dibawa,mengapa tidak memilih pisau atau pun yang lainnya. Namun, kutinggalkan pikiran itu dan aku pun segera menyadari bahwa mimpiku ini telah berhasil membuatku untuk dapat menjadi berani dan mencoba untuk tetap kuat. Aku berhasil mencoba melawan ketakutanku yang terlihat yaitu ketika aku melawan makhluk aneh yang mencoba menembakku dan juga makhluk aneh yang mengincar bapak-bapak tionghoa itu. Setidaknya, ada pondasi keberanian yang dapat kujaga dan kukembangkan kedepannya. Semoga saja dalam kehidupan nyata ini aku dapat menjadi lebih berani dan tetap kuat dalam menghadapi apapun itu.

#JurnalMimpi

Post a Comment