Kamis, 14 Januari 2016
Hari berjalan seperti biasa, dari bangun tidur
sampai jam segini, 19:03. Malam ini, kutorehkan tinta virtual ke secarik kertas
ini sambil mendengarkan sastra bersenandung. Keadaan hari berjalan seperti
biasa, begitu juga hatiku yang masih diliputi kebimbangan. Rencananya tadi di
sekolah aku mau berkonsultasi dengan guru BK, tapi sayangnya bel masuk telah
berbunyi tatkala aku menghadapi halangan lain ketika berjalan ke destinasiku
itu, tapi menurutku halangan ini lebih penting untuk kuselesaikan karena ini
menyangkut teman-temanku. Tapi, aku mencoba untuk melukis senyum di wajahku itu
lebih baik.
Oh iya, aku teringat. Tadi di sekolah ketika jam
pelajaran ada yang kosong, aku dan Dimas beserta yang lain mengisinya dengan
berpantun yang unik-unik, seingatku beginilah pantun kami:
Aku:
Pergi ke hutan nak berburu
Mendapat kancil sedap rasanya
Jikalau masuk tandanya seru
Jikalau keluar tandanya tanya
Hmmm, apa ye jawabannya cik adik?
Dimas berpikir sejenak.
Lalu ia menjawab:
Pergi ke padang membeli batik
Ia lalu terdiam dan mengulang sampiran itu terus,
aku pun tersenyum lalu memberikan pantun:
Pergi berteduh kebawah tugu
Terasa sejuk badan rasanya
Sudah lama cik abang menunggu
Dah macam belumut jadinya
“Weeee....hahaha”
teriak temanku yang mendengar kami berpantun.
Dimas pun menjawab:
Wahh, ngejek dia...hmmm, cik abang
dengar sini ye..
Aku pun tersenyum dan mendengarnya.
Ini pantun batik lagi..hahahaha
Aku semakin tersenyum
Pergi ke Padang membeli batik
Batik dibeli bercorak lada
Bukan tak nak jawab diri cik adik
Tapi malas ngasih tau jawabannya
“Eaaakkkk....hahaha balas ri,”
ujar teman-temanku.
Aku pun membalas pantun Dimas:
Kenangan itu ialah masa lalu
Masih terasa rasa sakitnya
Nih cik abang nak kasih tau
Mengupillah jawabannya
Tiba-tiba temanku yang lain terdiam kecuali Dimas
yang sudah ketawa duluan. Tari yang mendengarku juga bertanya kepadaku.
“Hah? kok bisa ngupil ri?”
“Coba lah praktekkin,”
jawabku
Ia pun membayangkan dan mencoba mempraktekkannya di
depan wajahnya, tidak mempraktekkan yang sebenarnya. Lalu ia pun tertawa.
Disambut tawa yang lain juga.
“Hahaha , bagus ri,”
ujar temanku yang lain
Kami pun terus berpantun sampai akhirnya aku
berpantun:
Berjalan-jalan nak ke rental
Pergi kesana bersama teman
Jikalau cik adik kuatlah mental
Cobalah tengok ke arah kanan
Dimas pun memandang ke arah kanannya lalu ia
tersenyum sambil berkata “Haduh, gak kuat lagi aku berpantun ri”.
Teman-temanku yang lain hanya ketawa.
Aku pun tersenyum.
Ya, kisah yang cukup menarik untuk hari ini, dan
juga masih tersimpan tanda tanya tentang hari Sabtu nanti, ya hari pengambilan
raport. Rahasia yang belum teridentifikasikan masih berada disana.
Posting Komentar