ARIANTOTLE

Kumelihat ke dalam diri, di dalam dunia terlihat dan tak terlihat. Es menyelimuti dan samudera tenang menari bersama bayangan bintang-bintang. Kembali kumelihat ke alam nyata. Langit kulihat, bintang nyata tergantung disana. Walau bagaimanapun, hatiku masih merekam duka dan luka yang terus saja terukir.

Kumemandang kepada alam kecil yang berada di hadapanku,  butiran-butiran yang menyatu padu di dalam ketidakterlihatan. Kembali kumelihat pada yang nyata. Kuterbangkan diriku ke angkasa. Kumencoba meraih bintang di sana. Kuterbang jauh dari bumi dan kini ku berada di angkasa dan melihat bumi kecil di antara teman-temannya setata surya.

Aku kembali terbang menjauh dan kini aku mendarat di sebuah planet biru raksasa. Zat cair kulihat seluruhnya. Menutupi tanpa ada daratan. Kumencoba menjadi kecil. Sangat kecil hingga seukuran atom hidrogen. Kumelihat seluruh molekul yang menurutku berbeda dengan molekul air. Namun, kukini ditarik masuk kedalam molekul itu.

Wusshh

Aku berada di dalam molekul dengan isi yang aneh. Elektron disini bukan mengitari nukleon, melainkan suatu planet kecil yang unik. Aku melangkah ke elektron yang dengan cepatnya berpindah kesana-sini. Hingga aku sampai ke tepi planet itu. Aku kembali semakin kecil dan terbang kedalam planet ungu itu. Planet ini tidak beratmosfer. Aku mencapai daratan datar tanpa relief. Namun ada rumah-rumah yang tinggi menjulang beserta jalan layangnya berdiri megah diatas hamparan daratan ungu yang terlihat lebih mirip papan sirkuit ini.

Aku tiba di rumah yang sangat sederhana. Pintunya terbuka dan hadir di depan pintu itu makhluk ungu yang mirip dengan manusia. Ia kaget dan mencoba lari, namun aku menenangkannya dan ia pun tenang dan mencoba memberanikan diri.

Ia berbicara dalam bahasa aneh yang terdengar seperti suara whistle. Namun entah bagaimana aku memahaminya.
“Siapa kamu?” tanyanya
“Perkenalkan namaku Fakhri,” jawabku.
“Fakhri? nama yang aneh. Dan makhluk apa kamu?”
“Aku? aku manusia. Dan kamu sendiri? namamu siapa dan apakah kamu ini?”
“Namaku Zerechnist, aku dan kaum disini adalah bangsa Nukleonan.”
“Oh, salam kenal”
“Salam kenal kembali”

Aaaaaaaaaaaaa
Aku mendengar teriakan yang ramai. Teriakan sahut menyahut itu bagai paduan suara whistle. Makhluk yang berbicara denganku tadi lalu dengan segera kembali masuk ke rumah dan menutup pintunya.
Aku bingung, lalu aku melihat ke atas, dimana makhluk lainnya juga berpandang ke arahnya.
“Oh, tidak,” ujarku.
Di atas sana ada sebuah elektron yang akan menghantam ke arahku. Bukan hanya kearahku, namun ke arah kami semua.
“Tidakkk,” teriakku

Aku yakin elektron itu akan jatuh ke arahku, namun aku tidak merasakannya. Aku membuka mata dan ternyata aku kini berada di tempat yang aneh. Tempat putih dan seputih-putihnya. Kosong. Tiba-tiba ada cahaya hitam yang dengan segera menyelimuti sekitarku. Kakiku dibekukan oleh es yang tiba-tiba mengunciku. Es itu dengan segera menyelimuti diriku seluruhnya beserta putihnya daerah sekitarku berubah menjadi kelam.

Tiba-tiba hadir beberapa lentera yang melayang dan hanya itulah yang menerangi. Tubuhku terkunci dan tersegel di dalam es yang kini mulai bercahaya juga. Dari luar sana, aku melihat kenangan kenanganku yang terjadi. Tangis, tawa, suka, duka kulihat semuanya. Air mataku meleleh merindukan kenangan itu hingga terdengar bunyi retak.

Bunyi itu semakin banyak dan es disekitarku pecah dan aku pun terlepas dan terjatuh dari tempatku itu. Aku terjatuh dan terjatuh hingga aku sadar, aku tenggelam dalam imajinasiku.

Aku kembali kepada kenyataan yang benar benar nyata. Aku berdiri menatap bintang dengan sayu-sayu angin bernyanyi di telingaku dengan diiringi tarian ilalang di sekitar.

Post a Comment