Kumelihat ke dalam diri, di dalam dunia terlihat dan
tak terlihat. Es menyelimuti dan samudera tenang menari bersama bayangan
bintang-bintang. Kembali kumelihat ke alam nyata. Langit kulihat, bintang nyata
tergantung disana. Walau bagaimanapun, hatiku masih merekam duka dan luka yang
terus saja terukir.
Kumemandang kepada alam kecil yang berada di hadapanku, butiran-butiran yang menyatu padu di dalam
ketidakterlihatan. Kembali kumelihat pada yang nyata. Kuterbangkan diriku ke
angkasa. Kumencoba meraih bintang di sana. Kuterbang jauh dari bumi dan kini ku
berada di angkasa dan melihat bumi kecil di antara teman-temannya setata surya.
Aku kembali
terbang menjauh dan kini aku mendarat di sebuah planet biru raksasa. Zat cair
kulihat seluruhnya. Menutupi tanpa ada daratan. Kumencoba menjadi kecil. Sangat
kecil hingga seukuran atom hidrogen. Kumelihat seluruh molekul yang menurutku
berbeda dengan molekul air. Namun, kukini ditarik masuk kedalam molekul itu.
Wusshh
Aku berada di dalam molekul dengan isi yang aneh.
Elektron disini bukan mengitari nukleon, melainkan suatu planet kecil yang
unik. Aku melangkah ke elektron yang dengan cepatnya berpindah kesana-sini.
Hingga aku sampai ke tepi planet itu. Aku kembali semakin kecil dan terbang
kedalam planet ungu itu. Planet ini tidak beratmosfer. Aku mencapai daratan datar
tanpa relief. Namun ada rumah-rumah yang tinggi menjulang beserta jalan
layangnya berdiri megah diatas hamparan daratan ungu yang terlihat lebih mirip
papan sirkuit ini.
Aku tiba di rumah yang sangat sederhana. Pintunya
terbuka dan hadir di depan pintu itu makhluk ungu yang mirip dengan manusia. Ia
kaget dan mencoba lari, namun aku menenangkannya dan ia pun tenang dan mencoba
memberanikan diri.
Ia berbicara dalam bahasa aneh yang terdengar seperti
suara whistle. Namun entah bagaimana aku memahaminya.
“Siapa kamu?” tanyanya
“Perkenalkan namaku Fakhri,” jawabku.
“Fakhri? nama yang aneh. Dan makhluk apa kamu?”
“Aku? aku manusia. Dan kamu sendiri? namamu siapa
dan apakah kamu ini?”
“Namaku Zerechnist, aku dan kaum disini adalah
bangsa Nukleonan.”
“Oh, salam kenal”
“Salam kenal kembali”
Aaaaaaaaaaaaa
Aku mendengar teriakan yang ramai. Teriakan sahut
menyahut itu bagai paduan suara whistle. Makhluk yang berbicara denganku tadi
lalu dengan segera kembali masuk ke rumah dan menutup pintunya.
Aku bingung, lalu aku melihat ke atas, dimana
makhluk lainnya juga berpandang ke arahnya.
“Oh, tidak,” ujarku.
Di atas sana ada sebuah elektron yang akan
menghantam ke arahku. Bukan hanya kearahku, namun ke arah kami semua.
“Tidakkk,” teriakku
Aku yakin elektron itu akan jatuh ke arahku, namun
aku tidak merasakannya. Aku membuka mata dan ternyata aku kini berada di tempat
yang aneh. Tempat putih dan seputih-putihnya. Kosong. Tiba-tiba ada cahaya
hitam yang dengan segera menyelimuti sekitarku. Kakiku dibekukan oleh es yang
tiba-tiba mengunciku. Es itu dengan segera menyelimuti diriku seluruhnya
beserta putihnya daerah sekitarku berubah menjadi kelam.
Tiba-tiba hadir beberapa lentera yang melayang dan
hanya itulah yang menerangi. Tubuhku terkunci dan tersegel di dalam es yang
kini mulai bercahaya juga. Dari luar sana, aku melihat kenangan kenanganku yang
terjadi. Tangis, tawa, suka, duka kulihat semuanya. Air mataku meleleh
merindukan kenangan itu hingga terdengar bunyi retak.
Bunyi itu semakin banyak dan es disekitarku pecah
dan aku pun terlepas dan terjatuh dari tempatku itu. Aku terjatuh dan terjatuh
hingga aku sadar, aku tenggelam dalam imajinasiku.
Aku kembali kepada kenyataan yang benar benar nyata.
Aku berdiri menatap bintang dengan sayu-sayu angin bernyanyi di telingaku
dengan diiringi tarian ilalang di sekitar.

Posting Komentar