“Aduh, gimana ni?” panikku dalam kegelapan dan
sendirian yang hanya ditemani remang bulan dan pepohonan. Suara burung hantu
dan makhluk malam lainnya saling bersahut. Aku sendirian terdampar di dalam
hutan seperti ini.
Aku panik dan ingin menangis, tiada apa yang dapat
aku lakukan dan aku lapar karena telah tersesat sejak sore tadi. Aku hanya
ingin berjalan-jalan menikmati suasana segar hutan, namun tanpa sengaja aku
tersesat.
Tanpa diduga tangisku pecah merindukan keluargaku di
rumah. Aku bingung, panik, kedinginan, dan kelaparan. Aku terduduk di batang
pohon besar yang tumbang. Aku menatap langit mendung tak berbintang. Aku lemas
dan terkulai lemah sambil menyandarkan diri di dekat pohon yang berada
di samping batang pohon yang tumbang ini.
Mataku basah dan lemas masih menyelimutiku. Aku pun
tenggelam ke dalam kegelapan bawah sadar.
Sayu-sayu aku mendengar sesuatu hingga mataku segera
terbuka dan segera berdiri.
“Allahu akbar...Allahu akbar...”
“Adzan?” tanyaku dalam hati, maka ini pasti sudah subuh.
Dengan segera aku melangkah dengan sedikit berlari ke arah suara Adzan yang
terdengar samar-samar dari kejauhan itu.
Tiba-tiba aku tersandung akar pohon hingga aku
terjatuh, namun aku segera bangkit dan terus berlari, karena apabila aku terus
berdiam disini, maka pasti aku akan terus berada disini. Adzan pun berakhir,
namun dari kejauhan aku melihat cahaya. Aku pun masih terus berlari.
“Alhamdulillah,” syukur terucap dari lisanku tatkala
aku berada di dekat masjid yang dekat dengan hutan ini. Dilihat dari masjid ini
bisa diketahui bahwa aku telah berada di desaku.
Dengan segera aku melangkah pulang ke rumah sembari mentari
mulai tersenyum. Aku menemui keluargaku yang cemas terhadapku. Aku dipeluk
sebagai tanda kasih sayang keluargaku hingga air mataku meleleh.

Posting Komentar