ARIANTOTLE

“Aduh, gimana ni?” panikku dalam kegelapan dan sendirian yang hanya ditemani remang bulan dan pepohonan. Suara burung hantu dan makhluk malam lainnya saling bersahut. Aku sendirian terdampar di dalam hutan seperti ini.

Aku panik dan ingin menangis, tiada apa yang dapat aku lakukan dan aku lapar karena telah tersesat sejak sore tadi. Aku hanya ingin berjalan-jalan menikmati suasana segar hutan, namun tanpa sengaja aku tersesat.

Tanpa diduga tangisku pecah merindukan keluargaku di rumah. Aku bingung, panik, kedinginan, dan kelaparan. Aku terduduk di batang pohon besar yang tumbang. Aku menatap langit mendung tak berbintang. Aku lemas dan terkulai lemah sambil menyandarkan diri di dekat pohon yang berada di samping batang pohon yang tumbang ini.

Mataku basah dan lemas masih menyelimutiku. Aku pun tenggelam ke dalam kegelapan bawah sadar.

Sayu-sayu aku mendengar sesuatu hingga mataku segera terbuka dan segera berdiri.
“Allahu akbar...Allahu akbar...”

“Adzan?” tanyaku dalam hati, maka ini pasti sudah subuh. Dengan segera aku melangkah dengan sedikit berlari ke arah suara Adzan yang terdengar samar-samar dari kejauhan itu.

Tiba-tiba aku tersandung akar pohon hingga aku terjatuh, namun aku segera bangkit dan terus berlari, karena apabila aku terus berdiam disini, maka pasti aku akan terus berada disini. Adzan pun berakhir, namun dari kejauhan aku melihat cahaya. Aku pun masih terus berlari.

“Alhamdulillah,” syukur terucap dari lisanku tatkala aku berada di dekat masjid yang dekat dengan hutan ini. Dilihat dari masjid ini bisa diketahui bahwa aku telah berada di desaku.

Dengan segera aku melangkah pulang ke rumah sembari mentari mulai tersenyum. Aku menemui keluargaku yang cemas terhadapku. Aku dipeluk sebagai tanda kasih sayang keluargaku hingga air mataku meleleh.

Post a Comment