ARIANTOTLE

Mataku terbuka tatkala ibuku membangunkanku untuk shalat shubuh, lantas aku pun bangun dan segera menunaikan shalat shubuh. Aku teringat bahwa tadi setelah berwudhu, ada venus yang menyapaku melalui celah dinding papan yang terbuka, aku hanya tersenyum.

Pukul 05.55 kulihat di jam dinding.
“Gerhana beberapa menit lagi mulai!” ujarku dalam hati.
Aku kembali ke dalam kamar dan menyalakan laptop yang terduduk manis di atas kasur, karena tadi malam juga aku gunakan untuk mengamati proses gerhana matahari yang akan terjadi di tanggal 9 Maret 2016 ini.

Hari mulai menjelang terang, ku arahkan kursor laptopku ke aplikasi Stellarium dan dengan segera kubuka.
“Matahari masih dibawah,” ujarku ketika melihat bahwa matahari belum muncul di Stellarium ini. Aku pun mempercepat waktu di stellarium sambil menyoroti matahari dengan mode teleskop. Ternyata, sekitar pukul 06.25 WIB, bulan akan bersinggungan dengan matahari lalu mulai melintas dihadapan matahari. Namun kurasa, matahari masih terlindung oleh bangunan dan pepohonan. Lalu kupercepat waktunya hingga setinggi lebih dari 1 derajat, dan menurutku matahari masih terhalang pepohonan, walau telah terjadi gerhana di sana.


Aku pun berjalan keluar rumah, memang benar matahari belum tampak. Aku kembali masuk ke rumah dan kembali memprediksi kapan matahari terlihat disini. Di dalam kamar, ku ukur kemungkinan matahari bisa tampak.
“Kayaknya sekitar 5 derajat sudah bisa nampak nanti,” ujarku
Adiku yang paling bungsu, telah terbangun karena ibuku membangunkannya. Ia berada di sampingku sambil melihat stellarium juga.
Aku melihat ketinggian matahari, ya sekitar 4 derajat. Aku pun membangunkan adikku yang kedua, karena ia juga ingin melihat gerhana. Aku pun berlari keluar dan melihat ke arah timur.
“Ya Allah, cantiknya..” ujarku sambil berlari ke dalam rumah.
Aku bisa melihatnya, matahari itu memiliki bentuk yang mirip sama di stellarium. Ternyata di ketinggian 4 derajat, matahari telah terlihat.


Aku memanggil kedua adikku dan memberitahu ke ayah dan ibuku bahwa gerhananya sudah terlihat. Aku pun mengambil kacamata filter matahari yang kudapatkan ketika OSN IPS SMP Tingkat Nasional Tahun 2014 lalu. Ibuku memberikanku 3 buah kacamata hitam. Segera aku dan adikku berlari ke ujung jalan di timur dan menatap matahari tersebut.
Cahaya matahari masih belum terlalu kuat hingga ketika aku memakai kacamata filter matahari, sang matahari itu sendiri tidak terlihat. Aku pun memakai kacamata hitam untuk mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke mataku.

Aku melihatnya! dengan mata kepalaku sendiri, tanda kebesaran Allah yang telah kutunggu bertahun-tahun. Do’a dan harapanku selama ini terkabul, Syukran ya Allah.
Matahari itu berada di antara dua awan yang berada di atas dan di bawahnya, hal itu menandakan bahwa gerhananya mungkin akan terlindung awan.

Aku pun terduduk di tepi jalan dan memandangi gerhana itu. Kedua adikku juga tampak antusias melihatnya.
“Yaa sudah terhalang awan,” ujarku ketika matahari itu menyelinap masuk ke awan yang berada di atasnya.
Salah seorang anak tetangguku datang, namanya Rahmat dan ia bertanya kepadaku tentang gerhana itu. Aku mengatakan padanya bahwa gerhana itu terlindung awan.

Aku pun berdo’a kepada Allah agar aku bisa melihat tanda kebesaran-Nya itu lagi.
Do’aku terkabul.
Dibalik awan, terlihat samar samar bentuk matahari yang kini terlihat seperti bulan sabit yang belum sesempurna sabit.
“Eh, itu mataharinya!” teriakku kepada kedua adikku dan tetanggaku itu.
“Eh, iya!” ujar Rahmat.

Tetanggaku yang lain, yaitu om Usuf juga datang ke arahku dan menatap gerhana yang samar-samar terhalang awan itu.
Gerhana itu kembali menghilang di telan awan tadi.
Rahmat telah pergi bersama Rian, tetanggaku yang lain, begitu pula om Usuf yang kembali ke rumahnya untuk sementara

Gerhana itu kembali muncul di atas awan yang menghalanginya tadi.
Gerhana itu kini hampir menyerupai bulan sabit dan sinarnya mulai menerang, hingga aku tidak bisa lagi menggunakan kacamata hitam itu walau dilapis 3 buah. Aku pun menggunakan kacamata filter matahariku.

Matahari itu kembali ditelan awan yang lebih besar di atasnya.
“Aduh, gimana nih? “ ujarku panik.
Kulihat awan yang berada di sana. Dua buah awan yang saling berhimpit. Salah satunya bergerak kekanan dan salah satunya lagi terlihat bergerak sangat sedikit hingga hampir terlihat diam.
“Aduh, awannya bergerak lambat, apa bisa ya keliatan gerhananya lagi?” ujarku. Kedua adikku hanya menatap awan itu sesekali melihat ke arahku.
“Ya Allah, semoga awannya bisa bergerak supaya kami bisa melihat gerhananya lagi ya Allah, tanda kebesaran-Mu ini ya Allah,” do’aku dalam hati.
Aku terduduk ditepi jalan dan melihat kesekitar. Berkabut.
Tidak berlangsung lama, awan tersebut kedua-duanya menyingkir ke selatan dan meninggalkan sang matahari yang bersinar terang.


Om Usuf kembali datang ke arahku, lalu disusul oleh Ibuku.
“Aduh gimana nih, cahayanya terlalu terang, gak bisa di foto, dipakekkan kacamata filter matahari ni juga gak keliatan,” ujarku ketika mencoba memotret matahari itu.
Om usuf mengetahui masalahku, lalu ia kembali kerumahnya dan mengambil Hpnya dan memotret matahari itu melalu kacamata filter matahariku itu, dan hasilnya terlihat gerhananya.
Ayahku datang dari arah rumah di tempat kami berada.
Ibuku juga sempat melihat gerhana parsial itu. Ayahku juga. Bentuknya mirip bulan sabit namun cahaya matahari itu terlalu terang. Hal ini sama diutarakan oleh om Usuf dan Ibuku. Cahaya matahari itu terlalu terang namun tidak menimbulkan panas seperti biasanya. Cahaya matahari itu juga menyebabkan cahaya disekitar terlihat putih dan kemerah-merahan, atau....sulit untukku menjelaskannya.


Gerhana tersebut kini berada sekitar lebih dari 10 derajat diatas ufuk timur kota Dumai.
Gerhana matahari ini adalah gerhana matahari pertama yang dapat aku lihat secara langsung. Aku sangat bersyukur bisa melihatnya.
Gerhana matahari tersebut kian lama mulai berubah bentuk kembali. Anak tetanggaku yang lain juga datang ke arah kami dan melihat gerhana tersebut.

Setelah sekian lama menatap gerhana matahari, belum selesai gerhana tersebut, kami semua kembali ke rumah. Namun, pantauanku terhadap gerhana belum selesai. Karena ketinggian matahari sudah cukup tinggi, aku dapat melihatnya dari belakang rumahku yang pada awalnya terhalang rumah tetanggaku. Panas matahari juga telah terasa kini. Walau begitu, aku tetap mengamatinya sambil memotret gerhana itu sesekali.

Aku kembali ke dalam rumah dan melakukan pengamatan melalui celah dinding kayu tempat kulihat venus shubuh tadi.
Aku menonton TV yang juga sedang membahas gerhana matahari, ketika kukembali memantau sekitar pukul 08.30 WIB, bulan sudah jauh ingin keluar dari piringan matahari hingga menyisakan secuil gigitan.


Hingga gerhana tersebut berakhir sekitar pukul 08.32 WIB, aku memantaunya.
Sungguh pengalaman yang sangat membahagiakan, aku bisa melihat gerhana matahari secara langsung. Dan kumenunggu untuk gerhana matahari berikutnya dan InsyaAllah aku bisa kembali memantaunya. Aamiin

Post a Comment