Ketika kukenal namamu, saat itu aku masih kecil.
Kuletakkan perhatianku pada pesonamu. “Andaikan aku bisa bertemu dengannya,”
ujarku polos
Hari demi hari berlalu, kini kulebih mengetahui
tentang dirimu. Sungguh, aku sangat ingin bertemu denganmu. Auramu begitu
memikat meski kita terpisah jauh oleh ruang dan waktu. Saat itu, kutulis namamu
diselembar kertas. Berharap aku tidak akan melupakanmu.
Di hari nan cerah, segala berubah menggelap tatkala
semua sedang sibuk menulis di atas meja berbangkukan kayu dikandung Sekolah
Dasar. Namun, segala berubah normal dan waktu terus melaju dengan jejaknya.
“Fakhri, tadi dia datang,” ujar temanku di sekolah.
“Siapa?” tanyaku bingung.
“Yang kamu nantikan,” ujarnya
Aku paham maksudnya, dengan segera aku berlari
keluar kelas.
“Loh, kemana dia?” tanyaku bingung.
“Dia telah pergi, beberapa jam lalu,” ujarnya
membuat hatiku padam tanpa berkas cahayanya lagi.
Kutelan getir pahit, dan kunanti ia kembali. Kunanti
ia dalam harapan, kunanti ia dalam do’a. Aku yakin bahwa ia akan datang kembali
kepadaku untuk menyampaikan senyumnya dengan ramah tamah pesonanya.
Hari demi hari, tahun demi tahun, setiap detik kumerasa
ia akan hadir. Dalam do’aku, kusampaikan semoga kami bisa bertemu. Atas segala
rencana dari sang Khaliq, aku yakin pertemuan kami telah diatur olehnya. Pertemuan yang aku
tidak tahu kapankah kami akan bertemu dan bertatap langsung dan bagaimanakah
alur skenarionya.
Kakiku kini menginjak tanah SMA. Berlalulah
hari-hari hingga semua teman SMAku tahu tentang diriku dan masa laluku. Mereka
tahu apa yang kunanti di dalam penantian dan harapanku.
Hari terus berlari dalam setiap langkahnya, meski
aku tidak bosan mendengar kata hari dan hari-hari maupun kata days dan seibarat
semakna dengannya, aku masih menanti.
“Kudengar ia akan datang,” Vira bercerita
dibelakangku.
“Iya,” sahut teman sebangkunya, Aisyah
“Kalau tidak salah...” Aisyah mengecilkan suaranya,
“dia yang dinantikan Fakhri,kan?”
“Iya,” jawab Vira juga bernada kecil
Aku mendengar pembicaran mereka, mereka menggosipi
diriku di belakang. Namun, kutahan untuk berkata-kata dan membalik diri ke
belakang.
Terbesit tanya dibenakku, benarkah dia akan datang?
dan menemui aku kembali setelah dahulu ia pergi tanpa meninggalkan jejak
untukku?
Tanya tersebut terus bersambut, hingga takdir
akhirnya akan mempertemukan kami berdua.
Fajar menjelang dan sang Venus menyampaikan salam
senyumnya kepadaku. Kusambut senyum itu dengan senyuman juga. Aku begitu
bersemangat bahwa kabar ia akan datang merupakan kabar yang benar. Ia akan
datang di pagi hari ini.
Aku segera keluar rumah dan duduk di tepi jalan
menantikan kehadirannya.
“Fakhri, sudahlah, ia tidak akan datang!” ujar
tetanggaku.
“Tidak, benar dia akan datang!” sambutku.
“Sudahlah, dia tidak akan datang kepadamu, dia akan
datang di tempat lain, percuma saja kamu menanti tak jelas seperti itu!”
bentaknya sekan menyuruh aku masuk ke kolong bumi dan tertidur disudut dunia.
“Dia ak...” belum habis kuberkata-kata, dia masuk
kembali kerumahnya.
Ada isak tangis dalam hatiku, namun aku terus
menahannya. Tidak akan kubiarkan setetes air mata jatuh dan menodai penantianku
selama ini.
Pikiranku melayang dan semakin terjatuh diriku
kedalam terkaman perkataan tetanggaku tadi seakan-akan ia terus menggaung.
Apakah benar dia tidak datang padaku? apakah dia hanya akan berada pada orang
lain?
Aku tidak dapat membendung lagi, aku menangis dan
langitpun membendung cerahnya dengan awan.
“Apa benar dia tidak akan datang?” isak tangisku
terus menggebu.
Tiba-tiba seberkas cahaya hadir di sekitarku.
Tatkala aku memandang ke hadapan...
“Itu dia!” senyumku melebar pesona lantas aku pun
langsung berdiri.
“Aku menantimu,” ujarku padanya yang berada di ujung
sana.
Dia, berada di balik awan sana, di dalam cerahnya
tersembunyi samar-samar, kini ia hadir dalam pesona pagi.
“Aku menantimu Gerhana Matahari,” ucapku
Ia semakin tersenyum dan memancar terang. Ia pun
tersenyum kepadaku dalam wujud sabit. Gerhana Matahari Parsial itu tersenyum
padaku.
“Terima kasih telah datang kepadaku.”

Posting Komentar