ARIANTOTLE

Ketika kukenal namamu, saat itu aku masih kecil. Kuletakkan perhatianku pada pesonamu. “Andaikan aku bisa bertemu dengannya,” ujarku polos
Hari demi hari berlalu, kini kulebih mengetahui tentang dirimu. Sungguh, aku sangat ingin bertemu denganmu. Auramu begitu memikat meski kita terpisah jauh oleh ruang dan waktu. Saat itu, kutulis namamu diselembar kertas. Berharap aku tidak akan melupakanmu.

Di hari nan cerah, segala berubah menggelap tatkala semua sedang sibuk menulis di atas meja berbangkukan kayu dikandung Sekolah Dasar. Namun, segala berubah normal dan waktu terus melaju dengan jejaknya.
“Fakhri, tadi dia datang,” ujar temanku di sekolah.
“Siapa?” tanyaku bingung.
“Yang kamu nantikan,” ujarnya
Aku paham maksudnya, dengan segera aku berlari keluar kelas.
Loh, kemana dia?” tanyaku bingung.
“Dia telah pergi, beberapa jam lalu,” ujarnya membuat hatiku padam tanpa berkas cahayanya lagi.
Kutelan getir pahit, dan kunanti ia kembali. Kunanti ia dalam harapan, kunanti ia dalam do’a. Aku yakin bahwa ia akan datang kembali kepadaku untuk menyampaikan senyumnya dengan ramah tamah pesonanya.

Hari demi hari, tahun demi tahun, setiap detik kumerasa ia akan hadir. Dalam do’aku, kusampaikan semoga kami bisa bertemu. Atas segala rencana dari sang Khaliq, aku yakin pertemuan kami  telah diatur olehnya. Pertemuan yang aku tidak tahu kapankah kami akan bertemu dan bertatap langsung dan bagaimanakah alur skenarionya.

Kakiku kini menginjak tanah SMA. Berlalulah hari-hari hingga semua teman SMAku tahu tentang diriku dan masa laluku. Mereka tahu apa yang kunanti di dalam penantian dan harapanku.
Hari terus berlari dalam setiap langkahnya, meski aku tidak bosan mendengar kata hari dan hari-hari maupun kata days dan seibarat semakna dengannya, aku masih menanti.
“Kudengar ia akan datang,” Vira bercerita dibelakangku.
“Iya,” sahut teman sebangkunya, Aisyah
“Kalau tidak salah...” Aisyah mengecilkan suaranya, “dia yang dinantikan Fakhri,kan?”
“Iya,” jawab Vira juga bernada kecil

Aku mendengar pembicaran mereka, mereka menggosipi diriku di belakang. Namun, kutahan untuk berkata-kata dan membalik diri ke belakang.
Terbesit tanya dibenakku, benarkah dia akan datang? dan menemui aku kembali setelah dahulu ia pergi tanpa meninggalkan jejak untukku?
Tanya tersebut terus bersambut, hingga takdir akhirnya akan mempertemukan kami berdua.
Fajar menjelang dan sang Venus menyampaikan salam senyumnya kepadaku. Kusambut senyum itu dengan senyuman juga. Aku begitu bersemangat bahwa kabar ia akan datang merupakan kabar yang benar. Ia akan datang di pagi hari ini.

Aku segera keluar rumah dan duduk di tepi jalan menantikan kehadirannya.
“Fakhri, sudahlah, ia tidak akan datang!” ujar tetanggaku.
“Tidak, benar dia akan datang!” sambutku.
“Sudahlah, dia tidak akan datang kepadamu, dia akan datang di tempat lain, percuma saja kamu menanti tak jelas seperti itu!” bentaknya sekan menyuruh aku masuk ke kolong bumi dan tertidur disudut dunia.
“Dia ak...” belum habis kuberkata-kata, dia masuk kembali kerumahnya.

Ada isak tangis dalam hatiku, namun aku terus menahannya. Tidak akan kubiarkan setetes air mata jatuh dan menodai penantianku selama ini.
Pikiranku melayang dan semakin terjatuh diriku kedalam terkaman perkataan tetanggaku tadi seakan-akan ia terus menggaung. Apakah benar dia tidak datang padaku? apakah dia hanya akan berada pada orang lain?
Aku tidak dapat membendung lagi, aku menangis dan langitpun membendung cerahnya dengan awan.
“Apa benar dia tidak akan datang?” isak tangisku terus menggebu.

Tiba-tiba seberkas cahaya hadir di sekitarku.
Tatkala aku memandang ke hadapan...

“Itu dia!” senyumku melebar pesona lantas aku pun langsung berdiri.
“Aku menantimu,” ujarku padanya yang berada di ujung sana.
Dia, berada di balik awan sana, di dalam cerahnya tersembunyi samar-samar, kini ia hadir dalam pesona pagi.

“Aku menantimu Gerhana Matahari,” ucapku
Ia semakin tersenyum dan memancar terang. Ia pun tersenyum kepadaku dalam wujud sabit. Gerhana Matahari Parsial itu tersenyum padaku.
“Terima kasih telah datang kepadaku.”

Post a Comment