Prasangka buruk adalah sebuah perilaku dimana sang
pelaku tersebut meletakkan suatu pemikiran dusta kepada orang yang dituju.
Sebagaimana yang telah kita ketahui, prasangka buruk
merupakan perilaku tercela yang dapat mendatangkan dosa dan mengandung keburukan.
Keburukan ini tidak lain dikarenakan awal dan akhir dari perilaku ini.
Ibarat suatu garis lurus. Seseorang yang
berprasangka buruk ini bagai garis yang tersunjam ke bawah. Garis tersebut
tidak akan bertemu terhadap titik mendatar yang ada di sampingnya.
Contohnya seperti Cersing (Cerita Singkat) berikut
ini:
“Dimana pensilku?” Arya bertanya.
“Bukankah tadi ada disini?”
Arya melirik ke teman sebangkunya, Akmal
“Sepertinya, dia yang mengambil
pensilku,” ujar Arya dalam hati
Sementara di sisi lain...
“Hadeuh, soal ini susah amat,” ujar
Akmal
Tiba-tiba ia merasakan teman
sebangkunya, Arya sedang gelisah.
Akmal segera melirik ke arah Arya
“Sepertinya, ia kehilangan sesuatu,”
ujar Akmal dalam hati.
Kembali ke sisi awal..
“Dia, melirik ke arahku. Sepertinya dia
bahagia ngambil pensilku,” ujar Arya dalam hati.
“Pensil, oh pensil,” ujar Arya kembali
pura-pura mencari pensil berharap Akmal mengembalikan pensilnya itu.
Di sisi lain..
“Arya kehillangan pensil ternyata,
sebaiknya aku pinjamkan pensilku yang satu lagi. Kalau gak salah aku tadi bawa
2 pensil,” ujar Akmal dalam hati
Dari cerita singkat di atas, pasti teman-teman
terasa ketidaknyambungan antara yang terjadi pada Arya dan pada Akmal.
Ketidaknyambungan itulah pengibaratan dari garis tadi.
Arya yang diumpamakan bagai garis tersunjam, tidak
bertemu dengan Akmal yang di ibaratkan titik di sampingnya, atau bisa kita
ibaratkan Akmal sebagai garis yang naik ke atas karena ia telah berniat
melakukan kebaikan.
Lantas, prasangka buruk itu sesuatu yang
buruk?
Cukup sulit untuk menetapkan keburukan dari
prasangka buruk ini, karena hal ini bersifat relatif terhadap awal mula pikiran
menghasilkan suatu perasangka buruk ini.
Bandingkan kedua pernyataaan ini.
“Saya berprasangka buruk terhadap orang
baik”
dengan
“Saya berprasangka buruk terhadap orang
yang berzina”
Mungkin kita menyadari bahwa pernyataan pertama itu sesuai
dengan objek prasangka buruk itu (saling tidak menyambung). Namun, pernyataan yang kedua ini? Jika diibaratkan, antara orang yang berprasangka buruk itu dan orang
yang berzina itu bagai garis yang sama-sama ke bawah dan ternyata bertemu di
satu titik. Bukankah ini maksudnya isi pernyataan tersebut nyambung?
Menurut saya memang iya, tapi kita fahami terlebih
dahulu, apakah objek yang kita prasangkai itu benar berbuat zina? atau tidak? namun, tetap saja, menurut koordinat
kartesius, kedua garis dan titik potong itu berada di sumbu y negatif yang
berarti kedua perilaku itu sama-sama buruk. Dan bisa jadi lebih buruk lagi jika
prasangka buruk itu menjadi ghibah. (Semoga kita dilindungi dari sifat tercela
ini, aamiin). Tetapi ada juga pengecualian dalam hal ini, yaitu apabila
prasangka buruk tersebut memiliki tujuan dan bukti yang benar dan jika kita
tidak berprasangka seperti itu, dikhawatirkan objek yang kita prasangkai itu
semakin terjerumus ke dalam keburukannya. (Mencari asal untuk menasehati objek
tersebut).
Maka lebih baik lagi jika kita berprasangka baik dan
menasehati orang yang berbuat perilaku tercela tersebut agar kembali ke jalan
yang benar. Sehingga kita sama-sama menjadi garis yang mendaki sumbu y positif.
Semakin mendaki, semakin besar nilai y, semakin menjadi orang yang baik kita.
Maka, dari penelaahan tentang prasangka buruk dari
sudut pandang koordinat kartesius ini, kita dapat semakin faham dan semakin
bisa menjaga diri dari perilaku yang tidak baik ini.




Posting Komentar