Hari ini, 我
belajar Bahasa Indonesia dan kebetulan sedang
materi tentang cerpen. Jadi, 我
mendapatkan garis besar tentang cerpen yang
ingin 我 buat. Jadi, garis besar itu 我 buat menjadi bentuk puisi yang bisa
teman-teman ambil hikmahnya. Semoga dengan tranformasi cerpen ke puisi-ي ini, bisa
memotivasi teman-teman.
Senandung Langit
Bentangan kain hitam
Merubah senyum menjadi geram
Dalam langkah setapak suram
Hatiku berkabut diselimuti kelam
Angin seakan enggan menyapaku
Bersama pepohonan kering dan lesu
Umpama gurun dalam hatiku
Jejak tiada alam membisu
Hamparan air terbentang luas
Penuh erangan bernada buas
Bangsa sampah menjadi alas
Buruk tercitra ukiran paras
Hadir menyapa cahaya merah
Damai tiada hanyalah resah
Sebab sesak bertambah susah
Barat ialah hadapan arah
Bola api datang menghujam
Dentuman bersahut memekik tajam
Seakan bumi sedang dirajam
Dengan api ia disiram
Aku berlari pergi menjauh
Lelehan air mata terus terjatuh
Mengingat bumi telah lusuh
Tiba saatnya untuk dibasuh
Rintihan kota gegap gempita
Permohonan ampunan terus dikata
Berlutut sujud mengikut serta
Ialah apa dipandang mata
Akhlak hancur sebagai berita
Keburukan jua lengkapkan sasmita
Sadarlah taubat ialah pelita
Bak duniawi terbakar jata
Berlari ke pohon ialah dituju
Sebab ombak datang melaju
Tetapi tertahan kaki ‘tuk maju
Seraya panggilan ujar diaju
Berjenggot putih sang kakek itu
Menitipkan cucunya kepada diriku
Namun sayang yang erat berpadu satu
Menjatuhkan air mata di kedua pipiku
Kumemeluk mereka berdua
Menanti ombak datang bersua
Deru ganasnya saling sulaya
Menambah gaung pada wihaya
Sentak terbangun sembari terduduk
Kutatap sekitar tiadalah hiruk-pikuk
Kusadar diriku di kasur yang empuk
Terbangun dengan hati teraduk
Syukur terucap ungkap hatiku
Hidayah didapat dari mimpiku
Hari akhir itu pasti berlaku
Siapkan bekal atasi lika-liku
Posting Komentar