Semilir angin sejuk menerpa diriku. Nyanyian burung
menghiasi setiap penjuru. Gemerisik dedaunan di atasku menambah nada alami.
Meski telingaku liar mendengar apapun, namun mataku tetap menatap alat
berbentuk monitor mini yang kusebut ‘Move’ ini sambil terus mengotak-atiknya.
“Assalamu’alaikum,”
Telingaku menangkap suara lembut. Lantas aku
berpaling ke asal suara.
“Wa’alaikumsalam. Eh Aisyah! Mari duduk.”
Wanita berkerudung putih itu tersenyum lantas duduk
di hadapanku.
“Cuma kamu sendiri?”
“Tidak, teman-teman lain ada di belakang,” jawabnya.
Tidak beberapa lama, 2 orang lelaki dan seorang
perempuan datang.
“Eh teman-teman, ayo silahkan duduk,” ujarku.
Mereka pun duduk melingkari ‘Move’.
“Proyek kita sudah siap?” tanya Dzakwan.
“Belum,” jawabku.
“Tapi, kelihatannya itu sudah sempurna,” ujar Hana.
“Kelihatannya saja, tapi belum bisa dioperasikan.
Sumber tenaganya juga belum dimasukkan,” balasku.
“Sumber tenaganya apa?” tanya Farhan.
Lantas aku mengambil secarik kertas dari dalam tasku,
secarik kertas yang berisi tulisan dan sketsa.
“Beberapa gram bioqueltronium,” jawabku sambil
menunjuk tulisan yang ada di kertas itu.
“Kita bisa mendapatkannya di pohon Lefoner di lereng
gunung Molarix,” sambungku
“Jauh....” ujar Hana.
Suasana hening sejenak. Aku menatap langit, awan
putih menghiasi kanvas biru raksasa di atas sana, tampak juga gerombolan burung
yang menari bersama.
“Oh iya, Fakhri di mana?” Kulemparkan kembali
pandanganku ke teman-teman.
“Iya juga ya, dimana dia?” tanya Aisyah.
“Coba aku telpon dia dulu.” Kuambil HP yang masih
berada di dalam tasku lantas kutelpon ia dan menempelkan HPku di telinga.
“Dijawab?” tanya Dzakwan.
“Belum, belum tersambung,” jawabku.
Aku mendengar perubahan nada yang khas.
“Eh sudah di angkat!”
“Halo
Fakhri?”
Terdengar bunyi seretan ke lantai lalu hantaman
kecil.
“Apa yang kalian mau? Pergi dari sini!
Pergi dari rumahku sekarang!”
“Eh?” Aku
mendengar teriakan Fakhri samar-samar.
“Akh! Lepaskan aku!”
“Diamlah engkau! atau kami bunuh kau!”
Terdengar sahut-menyahut aneh antara suara Fakhri
dan orang asing. Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana, namun yang kutahu,
jantungku berdegup kencang dan ada masalah dengan Fakhri.
“Ha...halo?” aku mencoba memanggil.
Namun yan kudengar hanya langkah kaki dan teriakan
Fakhri yang terus mengecil.
“Apa yang terjadi?” tanya Farhan.
“Ada yang aneh di tempat Fakhri sekarang,” jawabku
cemas.
“Aneh seperti apa?” tanya Aisyah.
Kupandang teman-teman, semuanya tampak cemas.
“Sepertinya ada yang menculik Fakhri,” jawabku lemas.
“Apa?” sahut teman-teman serentak.
“Ini masalah serius!” ujar Dzakwan.
“Kita harus ke rumahnya sekarang!” ujar Farhan.
“Bagaimana ia bisa diculik?” tanya Hana.
Aku segera memasukkan ‘Move’ ke dalam tas dan segera
berdiri. Teman-teman yang lain juga berdiri.
“Kita harus mencari Fakhri!” ujarku.
***
Rumah Fakhri yang cukup jauh dan kami yang hanya
berjalan kaki membuat lelah menghampiri. Meski kaki telah menangis minta
berhenti, namun aku terus melangkah begitu juga teman-teman.
Jalanan setapak yang cukup lebar dengan pepohonan
dan semak belukar di kiri kanan mewarnai perjalanan.
“Itu rumah Fakhri!” ujar Dzakwan.
Rumah megah bak istana dengan pagar besi yang
menjadi pengawalnya berada tidak jauh dari kami. Taman yang luas dengan banyak
bunga dan air mancur menghiasi halamannya. Memang tidak aneh lagi, Fakhri
memang anak orang kaya di daerah kami, namun yang membuatku takjub adalah
sifatnya yang sederhana dan dermawan, ia sangat terbuka pada siapa pun dan juga
tidak sombong.
“Pagarnya berlubang?” tanya Aisyah.
Aku melihat hal itu juga. Pagar yang terkunci dengan
lubang di pagar sebelah kanan. Dari samping aku melihat seseorang telungkup.
“Itu bukannya pak Budi?” tanya Hana.
“Eh iya! Itu pak Budi!” ujar Dzakwan.
Kami pun melangkah masuk melalui lubang yang terbuka
itu.
“Astaga!” ujar Hana.
Aku segera mendekat ke kepala pak Budi, security
rumah Fakhri, sementara Hana menggoncang tubuh pak Budi agar terbangun.
Kuletakkan jari terlunjuk dan tengahku ke leher pak budi. Aku masih bisa
merasakan detakan.
“Pak Budi masih hidup,” ujarku.
“Pak Budi pingsan?” tanya Aisyah.
Aku menggenggam tangan pak Budi. Kaku seperti batu.
Begitulah kurasakan.
“Ada yang aneh,” ujarku.
“Teman-teman, sepertinya pak Budi bukan pingsan.
Sesuatu aneh terjadi dan membuat tubuhnya kaku mematung,” jawabku.
“Lebih baik kita pindahkan pak Budi ke posnya dulu,”
sambungku.
Kami pun mengangkat tubuh pak Budi ke posnya.
Tubuhnya tidak bergerak sama sekali, juga tidak berubah. Ia benar-benar
mematung!
Dengan pikiran yang penuh akan cemas, aku dan
teman-teman berlari cepat ke arah rumah Fakhri. Kami menaiki tangga satu per
satu dan tiba di hadapan gerbang pintu yang tinggi.
Dzakwan segera membunyikan bel. Namun tak ada
jawaban. Ia melakukannya berkali-kali dan tak ada jawaban juga.
“Bagaimana kalau kita masuk saja?” tanya Farhan.
Aku mengangguk. Aku berjalan menghadap gerbang pintu
dan teman-teman mengikuti di belakang. Jantung berdegup kencang, keringat
dingin, gemetaran, lelah berpadu menjadi satu. Tanganku segera menggenggam daun
pintu dan membukanya.
Ciitttt.....trak..
Pintu itu terbuka dengan bunyi decitan dan berakhir
dengan hantaman di dinding.
“Halo? permisi?” ujarku.
Ruangan remang dan tak ada jawaban. Aku melangkah
masuk perlahan disusul teman-teman. Aku tidak menemukan seseorang pun kecuali
sofa-sofa yang berjajar, meja mewah, lampu gantung, hiasan, pilar-pilar, tangga
dan keramik yang kami pijaki.
“Tak ada siapa pun di sini, coba kita ke lantai 2,”
ujar Aisyah.
Kami pun melangkah dengan perlahan-lahan, meski
suara langkah kami masih terdengar. Tempat ini benar-benar sunyi, mungkin
apabila ada kelereng yang dijatuhkan di sudut rumah, maka seluruh rumah akan
terdengar.
Kami segera menaiki tangga yang cukup panjang hingga
tiba di lantai kedua.
Sama saja seperti di lantai pertama, sunyi. Namun,
ada beberapa perabot rumah tangga yang terjatuh.
“Coba kita ke kamar Fakhri, mungkin ada jawaban,”
ujar Farhan.
Kami pun memutar haluan dan melangkah ke kamar
Fakhri. Ada vas bunga yang pecah di dekat dinding. Sepertinya ada perlawanan
antara Fakhri dan orang asing tadi.
Kami tiba di pintu yang tergantung sebuah tulisan
“Fakhri’s Bedroom”, di bawahnya ada juga tulisan menggantung namun telah robek
dan hanya menyisakan tulisan “lajar.”.
Aku segera membuka pintu dan tampak kamar Fakhri
begitu berantakan. Selimut yang berada di lantai, pecahan kaca, cermin yang
pecah, kayu-kayu, kursi patah, dan lainnya. Di meja belajar Fakhri tampak
kertas-kertas berwarna-warni yang menempel, itu adalah catatan yang harus
Fakhri lakukan, menurutku.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya
Dzakwan.
“Pasti ada petunjuk untuk dapat menemukan Fakhri,”
ujarku.
“Sepertinya Fakhri telah jauh dari sini dan tidak
tahu dimana keberadannya,” ujar Hana.
“Semoga ada jawaban,” harapku.
Aku melangkah lebih mendekat ke meja Fakhri. Ada
Laptop yang sedang tertutup, namun lampunya menyala.
“Laptopnya dibuat mode sleep.”
Tanpa kuperintah, tanganku begitu saja membuka
Laptop itu dan layarnya segera menyala.
“Teman-teman coba ke sini!” ujarku.
Dengan perlahan, teman-teman mendekat ke arahku.
“Ada tulisan yang Fakhri buat,” ujarku.
“Angka dan huruf?” tanya Aisyah.
“Ya, sepertinya
ini gabungan beberapa jenis bilangan dan huruf. Aku yakin ia menulis ini dengan
suatu sebab,” ujarnya.
“Tapi, apa mungkin ia menulis ini sewaktu
genting-gentingnya itu?” tanya Farhan.
“Dan juga, tulisan itu panjang,” Dzakwan menimpali.
Aku menatap dengan teliti setiap sisi Ms.Word itu.
“Tidak, ia telah mempersiapkannya. Lihat Titlenya.
‘Darurat’. Ia pasti telah menyimpan ini sebelumnya dan tahu bahwa hal darurat
akan terjadi. Sehingga sewaktu hal itu terjadi, ia tinggal membukanya,” ujarku.
“Tapi, kalau ia mengetahui hal darurat akan terjadi,
mengapa ia tidak memberi tahu kita? kan biar kita juga bisa berjaga-jaga dan melindunginya,”
ujar Farhan.
“Aku tidak tahu.”
“Tapi, apa yang ia tulis itu?” tanya Aisyah.
“Baiklah, akan kucoba menerjemahkannya,” ujarku.
“4B berarti...K.....11754....eh bukan, 117 bilangan
octal, berarti O....54...berarti T...101....berarti A....4B....berarti
K....1000....hmm...1000100 berarti D.”
“Kotak?” tanya Farhan.
“Sepertinya....tapi masih ada sambungannya,” ujarku.
“I...apa yang I? bilangan hexadesimal
bukan...sepertinya memang huruf I....terus...4C berarti L....105 berarti
E....4D..berarti M...101 tadi A....R....huruf R mungkin...atau memang huruf
R...dan 1001001 kode biner yang berarti I....berarti kalau digabung semuanya
menjadi...”
“Eh apa ini?”
Pertanyaan Aisyah memutus ucapanku. Ia mendekat dan
membawa secarik kertas origami kecil.
“Kotak Di Lemari?!” seru Farhan.
“Apa yang kotak di lemari?” tanya Hana.
“Sepertinya ada sebuah kotak penting di lemari
Fakhri,” ujarku.
“Kalau ini apa, Fan? pernyataannya aneh,” ujar
Aisyah sembari menyodorkan kertas tadi.
“Aneh seperti
apa?” tanyaku sambil menerima kertas itu.
“Isinya berbeda dari catatan yang lain, catatan lain
berisi kegiatan-kegiatannya dan ada juga waktunya, namun yang itu berisi
pernyataan aneh dan angka saja.” Aisyah terus mengungkapkan pendapatnya
sementara aku membaca kertas itu.”
“Mata Bu Jeri 828?”
“Aneh,” ujarku.
“Anehkan?” tanya Aisyah memastikan.
“Apa yang aneh?” tanya Hana.
Aku menyodorkan kertas itu ke Hana dan Farhan pun
melihatnya juga.
“Mata Bu Jeri 828? mata manusia mana yang sebanyak
itu?” tanya Hana.
“Dan...siapa Bu Jeri?” tanya Farhan.
“Mungkin tantenya,” ujar Dzakwan.
“Setahu aku, Fakhri tidak memiliki tante dengan nama
itu,” ujarku.
“Tetangganya?” tanya Dzakwan kembali.
“Tidak ada yang tinggal di daerah ini kecuali
keluarga Fakhri, dia tidak memiliki tetangga.” ujar Hana.
“Iya juga ya,” kata Dzakwan.
“Oh iya, coba kita cek yang ada di dalam lemari
Fakhri. Mungkin itu petunjuk yang akan mengungkap semuanya. Tentang Mata Bu
Jeri 828 itu, nanti saja kita pecahkan,” ujarku.
Kami pun bersama-sama melangkah ke lemari Fakhri dan
meggeledah isinya. Lemari ini sangat besar, sehingga untuk menggeledahnya,
butuh kami semua yang melakukannya.
“Ada kotak!” teriak Hana.
Ia pun mengeluarkan kotak hijau kecil dan
meletakkannya di meja belajar Fakhri tadi.
Aku masih berdiri di tempatku dan membaca isi kertas
tadi.
“Mata Bu Jeri 828?”
“Kode apa ini?”
“828 ini mungkin HBH”
“Atau ujung nomor lainnya? seperti nomor
HP mungkin?”
“Atau mungkin.....”
“tam...hi....”
“Jebuh B...”
“Berjubah Hitam!”
Aku menatap ke arah teman-teman yang sedang
mengerumuni kotak hijau tadi lalu melangkah ke arah mereka perlahan.
“Aku menemukan maksud Mata Bu Jeri 828 ini,” ujarku.
Teman-temanku menatapku polos.
“Taufan, ada surat dan benda aneh di dalam kotak
ini. Cobalah baca isi suratnya,” ujar Hana sambil memberikan secarik kertas
kepadaku.
Aku tahu akan terjadi hal buruk kepadaku. Dari mimpi burukku,
dari semua kejadian yang pernah terjadi dalam riwayat keluargaku. Dan aku tahu
kalian akan mencariku jika aku menghilang. Gunakanlah benda ini, ini bisa
menjadi GPS untuk melacak posisiku. Kalian bisa menemukanku.
“Apa yang pernah terjadi dalam keluarga Fakhri?”
tanya Hana.
“Apa Fakhri punya kekuatan supranatural untuk
mengetahui sesuatu yang akan terjadi?” tanya Dzakwan.
Aku merasa benar-benar harus untuk menemukan Fakhri.
“Aku tidak tahu, tapi yang kutahu, kita harus
menemukan Fakhri segera!” ujarku bersemangat.
“Benar!”
“Kita pasti bisa menemukannya.”
“Ya! alat ini bisa membantu kita,” ujar Hana sambil
memandang ke dalam isi kota itu.
“Ya. Oh iya, aku telah berhasil memecahkan Mata Bu
Jeri 828 tadi,” ujarku.
“Apa?” tanya Farhan.
“Berjubah Hitam,” jawabku.
“Apa? Berjubah Hitam?” kaget Aisyah.
“Kenapa?” tanyaku melihat raut wajah Aisyah berubah.
“Aku pernah melihat orang aneh berjubah hitam beberapa
jam yang lalu sebelum aku ke rumahmu,” ujarnya.
Bersambung....

Posting Komentar