“Langit murung,” ujar Aris
Aku menunduk, menatap genangan air luas yang
menari-nari. Sejenak aku merasa ada yang memegang bahuku.
“Kamu tidak apa-apa ari?” ujar suara yang mirip
dengan suaraku.
Aku memalingkan wajah ke asal suara. Arya yang
memegang pundakku, sementara Aris berdiri 10 meter dariku dengan memainkan air
laut itu menjadi es melingkar.
“Aku tidak tahu, akhir-akhir ini aku merasa sedikit
kebingungan.”
“Karena apa?”
“Entah, hanya perasaan yang angin-anginan.”
“Tentang itu?”
“Tentang yang mana?”
“Yang kamu ceritakan kepada kami kemarin.”
Aris mendatangi kami dan memberiku kristal es yang
berkilauan diterpa aurora yang melambai di atas. Langit tak semurung yang tadi.
“Perasaan kamu terlalu sensitif Ari, mungkin karena
itu kamu merasakan apa yang tidak dirasakan orang lain,” ujar Aris.
“Lagi pun menurutku, itu semacam sinyal yang aku pun
ragu apa itu dari dalam dirimu atau luar dirimu,” sambung Arya.
“Itu masalahnya, aku merasa tertekan luar dalam. Apa
mungkin memang terjadi hal seperti itu atau hanya karena satu dimensi yang
saling memengaruhi?” balasku.
Aku melemparkan pandangan ke belakangku. Istana es
yang berdiri megah di atas tanah es ini. Tanah es ini memiliki 8 lengan di
setiap penjuru dan di ujung penjuru itu ada semacam monitor virtual yang
terhubung ke core yang berada dalam istana. Aku merasa ada cahaya terang di
campur panas di tengkukku, aku segera memandang. Arya sedang memainkan api di
tangannya.
“Mungkin sama halnya seperti ini, kamu merasakan
panas dari apa yang aku tidak rasakan,” ujar Arya.
Dengan pikiran, aku melayangkan air yang panjang
namun ramping ke arah tangan Arya.
“Mungkin. Jadi, aku merasakan apa yang tidak kamu
rasakan, tapi kamu tidak menyadari bahwa orang lain merasakan?” ujarku sembari
api di tangan Arya padam karena airku.
“Jadi, bisa disimpulkan apa yang terjadi padamu itu
berasal dari suatu sebab. Memang hukum alam seperti itu,” ujar Aris.
“Kalau begitu, kita bisa ke lengan utara untuk
mencari informasi,” ujarku, “Karena, bisa saja ada informasi yang tertangkap di
alam bawah sadar.”
Kami pun berlari ke lengan utara yang panjangnya 77
meter dengan lebar 3.5 meter.
“Biar cepat, sebaiknya kita menggunakan overboard
masing-masing,” ujar Arya.
Secepat dedaunan dilambaikan badai, overboard kami
muncul dari bahan dasarnya. Aris dengan esnya, Arya dengan apinya, dan aku dari
air. Kami segera menaiki overboard kami dan melaju menuju ujung.
“Ok, kita sampai,” ujarku.
Kami turun ke tanah es lingkaran yang memiliki
diameter 7 meter ini. Lalu muncul layar virtual persegi. Aku segera mendekat
dan melakukan sedikit pengotak-atikan.
“Eh, sepertinya ini..” ujarku.
Di layar, terdapat gambarku dalam posisi duduk dan
merasakan aura gelap disekelilingku.
“Coba kamu buka informasi kala itu tentang dirimu,
ri,” ujar Aris.
Aku pun menekan diriku dan keluar semacam kode-kode
deskripsi di samping kanan layar.
Aku mendapati penggalan kode-kode deskripsi seperti
ini:
“Dan,
nafsu yang mencoba memberontak melawan perintah Tuhannya, kecuali nafsu yang
diridhai-Nya. Namun, ia dapat tersisipi oleh godaan syaithan dan koalisi itu
dapat membangkitkan sisi buruk suatu individu.”
Aku segera geser informasi itu ke atas dan menemukan
lagi yang ini:
“Di sebalik luar
jasad, terjadi ketidakstabilan kondisi dan berimplikasi pada dalamnya.
Keburukan itu akan dihias oleh syaithan agar tampak indah. Namun, itu
mencelakakan. Taqwa dan tawakkal adalah jalan keluar dalam mereda badai itu.”
“Aku tahu sekarang, Maha Suci Allah,” ujarku.
“Dugaanku, itu berasal dari gejolak nafsumu dan juga
godaan luar,” ujar Aris.
“Berarti, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan dan
kita lakukan?” tanya Arya.
“Ya! Bertawakkal kepada Allah dan senantiasa Taqwa
kepada-Nya. Aku harus bisa menahan setiap gerak-gerik keburukan yang terlintas
padaku. Karena Allah akan memberi ganjaran pahala kepada hamba-Nya yang mampu
bersabar,” ujarku.
“Allahu Akbar,” Arya dan Aris bertakbir.
Posting Komentar