Ahad, 29
Desember 2019
First time menulis lagi
di blog di tahun 2019 ini setelah sekian
lama tidak menulis. Karena beberapa kesibukan kuliah dan juga hal lainnya
membuatku jadi terlupa kalau aku hobi untuk menulis. Kini kucoba untuk menumpahkan
setetes demi setetes tulisan, sekedar untuk meluapkan daya dan rasa yang ada di
hati dan pikiran.
Pada kesempatan ini aku
hendak menceritakan mengenai fenomena yang terjadi pada hari Kamis, 26 Desember
2019 lalu. Fenomena apa? Ya! Fenomena Gerhana Matahari Cincin. Sekilas mengenai
Gerhana Matahari Cincin ini, sebelumnya aku telah mengetahui tentang gerhana
ini pasca Gerhana Matahari Sebagian di tahun 2016 lalu. Setelah aku mengamati
gerhana itu, langsung saja aku searching di internet mengenai gerhana matahari
yang akan terjadi selanjutnya. Langsung saja kala itu aku terpaku melihat
gambar peta lintasan gerhana matahari yang melewati Pulau Sumatera. Namun, yang
lebih membuatku terpana adalah lintasan tersebut tepat melewati di dekat kotaku
berada, kota Dumai, meski hanya peta buta, tapi aku yakin itu ada di
persekitaran Riau. Kuamati dengan seksama judulnya, Annular Solar Eclipe, “Wah,
gerhana matahari cincin,” pikirku. Kuamati tanggalnya, 26 Desember 2019, “3
tahun lagi. Apa aku masih berada di sini ya?” Wajar kukatakan demikian, karena
waktu itu aku memiliki keinginan untuk kuliah di Pulau Jawa, namun takdir
berkata lain dan akhirnya aku berkuliah di Riau, di jurusan yang tak seperti
yang kubayangkan. “Apa 3 tahun lagi aku masih hidup?” Ya, karena siapa tahu
kapan ajal ‘kan menjemput?
Kamis, 26 Desember 2019
Mataku terbuka, remang
seperti biasa kutemui dengan dengung alarm yang menyuruhku untuk segera bangun.
Aku pun mematikan alarm dan mengamati sekarang pukul berapa.
“Jam 4 subuh,” batinku.
Segera aku duduk
sejenak dan membaca do’a bangun tidur lalu segera melangkah ke kamar mandi
untuk mengambil wudhu. Setelahnya aku shalat tahajjud dan menanti sejenak untuk
berangkat ke masjid.
Ada rasa degdegan dalam
diriku terkait hari ini. Ya, hari ini salah satu hari yang kunanti-nanti dan
tak kusangka aku masih diberi kesempatan hidup untuk merasakan hari ini. Aku
ingat 3 tahun lalu ketika aku mengangan-angankan hari ini tiba. Aku belum
pernah merasakan gelapnya hari tatkala bulan bertemu mentari. Namun, hari ini
tatkala metari berada di atas kepala, aku akan melihatnya.
Setelah pukul 04.30 WIB
lebih beberapa menit, aku pun berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat
shubuh, lalu kembali ke kos dan membaca dzikir pagi. Setelah selesai, aku
berbaring sejenak untuk melihat media sosial di HPku.
“Lebih baik mengerjakan
tugas statistika sekarang.”
Aku beranjak dari
tempat tidurku dan mengambil beberapa helai kertas dan sebatang pulpen seraya
mengerjakan tugas statistika yang merangkap bersama kuis ini. Tugas ini
sebenarnya syarat untuk Ujian Akhir Semester tanggal 06 Januari 2020 nanti.
Mengenai statistika ini
sebenarnya ada beberapa catatan yang menarik. Sebenarnya aku tak begitu paham
materinya, tapi kuupayakan untuk paham semaksimal dimana aku bisa. Maka dari
itu, tatkala memulai untuk mengerjakan, aku kewalahan untuk memahami soalnya.
Belum lagi aku tak paham dengan kaidah-kaidah tabel Z yang penuh dengan bilang
berkoma itu.
Sebelum aku larut lebih
larut ke dalam kebingungan ini, alangkah baiknya kupahami perlahan-lahan.
Kupandang lekat-lekat tabel Z dengan pandangan orang yang membutuhkan jawaban.
Kutelusuri alur angka-angka berkoma itu. Setelah sekian lama merenung, mungkin
sekitar 30 menit hingga 1 jam, aku pun mendapati benang merahnya. Kudapati bagaimana
angka berkoma itu tersusun secara berpola mengikuti deretan angka Z. Akhirnya
kusimpulkan bahwa tabel Z yang kumiliki ini memiliki 3 jenis penyajian dan
pembacaan. Dengan kutemukan kunci utama ini, akhirnya aku paham materi
statistika lainnya yang waktu itu aku bingung dengan penjelasan dosen mengenai
“Kalau tabel Z, yang dibagi itu tak perlu dikurangi 1”. Jadi, kunci untuk
mempelajari suatu ilmu, yaitu dengan memahaminya. Namun, lebih dari itu semua,
kunci dalam memahami suatu ilmu adalah memahami bahwa kamu bukan siapa-siapa
dan kamu tidak tahu apa-apa melainkan sekedar apa yang dianugerahi ilahi padamu
semata. Kunci menuntut ilmu adalah menyadari bahwa ilmu itu seluruhnya milik
Allah, maka berikhtiarlah dalam meraihnya serta jangan lupa adab-adabnya.
Setelah pukul 10.00 WIB,
aku teringat sesuatu. Di tahun 2016 lalu, aku memantau gerhana matahari melalui
simulasi di Stellarium, maka aku pun mendownload stellarium dan mengamati
bagaimana kondisi di langit Pekanbaru saat ini. Ternyata gerhana matahari telah
membentuk sabit. Hatiku tergerak untuk segera menunaikan shalat gerhana, namun
aku belum melihat gerhana itu secara langsung. Dengan meraih HP, aku pun segera
turun dari kamar kosku di lantai dua ke bawah. Kutengadahkan wajahku ke atas.
Aku bisa melihatnya! Dengan menyipitkan mata dan membuat lubang sempit dengan
jari yang diletakkan di depan mata, aku dapat melihat gerhana matahari
berbentuk sabit itu secara langsung. Sebenarnya, aku juga bersyukur kepada
Allah yang telah meletakkan awan-awan yang berada di antara aku dan matahari
itu sehingga cahaya matahari yang jatuh dari langit itu dapat terfilter
beberapa persen sehingga aku dapat melihat matahari tanpa kesilauan yang
signifikan.
“Lagi ngapain Ari?”
Tanya Ibu kos.
“Oh, lagi melihat
gerhana matahari, Bu,” ujarku.
“Eh, sudah terjadi ya? di
Siak kan?”
“Sudah, Bu. Di sini
juga terlihat, itu di atas,” kutunjuk ke langit.
Aku pun memfoto ke
gerhana matahari itu dan menunjukkan fotonya ke Ibu kos dan seorang lagi Ibu
yang jualan di kosku. Salah seorang pelanggan Ibu yang berjualan itu juga
segera turun ke jalan dan mengamatinya. Dia pun mengiyakan bahwa telah terlihat
gerhana. Segera setelahnya aku kembali ke kamar kosku, mengunci pintu,
mengambil wudhu, dan shalat sunnah gerhana. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan
ini, karena jarang-jarang bisa shalat sunnah gerhana kan?
Simulasi Gerhana Matahari di Langit Pekanbaru, Riau dengan Stellarium
Gerhana Matahari di Langit Pekanbaru
Setelah shalat sunnah
gerhana, Ibuku menelpon dan mengabari tentang gerhana matahari yang terlihat di
Dumai, suasana terlihat seperti subuh atau menjelang maghrib. Sementara di sini
pun suasana mulai meneduh. Kulihat jam, mendekati pukul 12.00 WIB. Aku
mengabari adikku melalui WA untuk memfoto gerhana matahari yang terlihat di
Kota Dumai. Aku pun keluar kos untuk melihat ke sekitar, suasana sedang
mendung. Gabungan antara mendung dan gerhana matahari ini membuat suasana
menjadi sangat teduh, bahkan aku merasakan sejuk. Langit yang tampak biru
terang juga tampak meredup. Menjelang Zhuhur, aku pun segera turun dari kosku
untuk ke masjid. Kuamati di atas, mendung menutupi mentari. Aku tahu sekarang
saatnya fase cincin, namun mentari tertutup oleh awan mendung.
Gerhana Matahari di Langit Dumai
Di tengah perjalanan
aku menemukan temanku yang sedang mencoba mencari keberadaan gerhana. Kukatakan
padanya bahwa gerhana telah terjadi dan sekarang sedang masuk fase cincin,
hanya saja gerhananya terhijabi awan. Kutunjukkan foto gerhana yang sempat
kuambil tadi kemudian setelah berbincang sejenak dan adzan pun telah
berkumandang, aku melanjutkan perjalanan ke masjid.
Di masjid suasanya
benar-benar teduh, aku juga merasa kedinginan karena AC masjid. Karena saking
teduhnya, lampu masjid pun dinyalakan untuk menerangi seisi masjid. Setelah
selesai shalat Zhuhur, aku pun pulang. Di perjalanan kulihat langit masih saja
mendung.
Kondisi di Depan Kos, Suasana Menjadi Teduh
Sesampainya di kos, aku
membaca al-Qur’an sejenak lalu kembali kubuka laptop untuk melihat kondisi
terkini matahari.
“Sudah masuk sabit
akhir,” gumamku.
Kuraih HPku dan ada
chat masuk dari temanku, Jasriman, salah seorang gharim masjid di tempat aku
shalat tadi, Masjid Muthmainnah. Dia mengatakan bahwa dia belum melihat
gerhana, sementara dia teringin untuk melihatnya. Aku keluar kos sejenak, lalu
masuk lagi.
“Langit lagi cerah,”
tulisku.
Langit memang cerah,
namun silaunya mentari tak dapat tertangkap oleh kamera HP. Kukatakan padanya,
kalau HPnya punya filter atau mode penggelapan suasana, mungkin mataharinya
bisa terlihat. Dia pun mengirim video. Dari video itu, tampak sinar mentari
begitu kuat sehingga bagaimana bentuknya tak dapat tertangkap.
Waktu terus menuju
pukul 14.00 WIB sementara di layar monitor laptopku terpampang gambar matahari
yang hampir kembali ke bentuknya semula. Kubiarkan waktu berjalan sementara aku
tetap mengerjakan tugas statistikaku kembali.
“Alhamdulillah, terima
kasih Yaa Allah,” batinku.



Posting Komentar