ARIANTOTLE

 Ahad, 18 Desember 2022



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hi guys!

How’s everything?

Semoga everything’s alright ya.

Well, sebenarnya banyak hal yang sudah terjadi hingga akhir tahun 2022 ini. Mungkin beberapa hal yang bisa kuceritakan akan kutulis di blogku ini selanjutnya. Dan Alhamdulillah juga pada tanggal 02 Desember 2022 kemarin aku telah melaksanakan Seminar Usul Penelitian dan saat ini aku dalam fase revisi proposal. Meski sedang revisian proposal, naluriku untuk menulis di blog kembali muncul. Sebenarnya…memang sudah lama pengen menulis lagi tapi baru hari ini aku menemukan sesuatu yang bisa kutulis. Hari ini aku ingin menceritakan salah satu mimpiku yang terjadi di tahun 2019. So, selamat membaca!


Ahad, 06 Oktober 2019

Pandanganku tertuju pada dataran yang berkilauan di ujung sana, bersanding dengan genangan air yang tampak sekarat. Beberapa orang telah berjajar di bibir sungai, menanti dan berharap. Mereka memohon kepada Yang Maha Kuasa agar mengalirkan bagi mereka air yang menentramkan jiwa mereka yang gelisah. Kulangkahkan kakiku ke sana kemari dan memantau setiap apa yang terjadi. Tiba-tiba sejumlah debit air mengalir perlahan hingga tiba aliran lumayan deras dari suatu tempat di balik pepohonan sana. 

"Gimana air itu bisa mengalir bang?" tanya suatu suara yang tak kukenal. Kualihkan pandangan dan kutemukan seorang perempuan yang lebih muda dariku di hadapanku.

"Kurang tau juga abang dek, abang baru aja sampai di sini," jawabku singkat. 

Kulangkahkan kaki ke bibir sungai, berbaur bersama warga yang memandang fenomena ini dengan heran.

"Yaa Allah, berkahilah daerah ini," batinku. 

Kualihkan pandangan ke balik pohon tempat aliran air ini berhulu. Kulihat daerah yang tampak rimbun penuh pepohonan. Segera setelahnya kakiku melangkah mundur dan memisahkan diri dari kerumunan. Sendirian aku melangkah menuju hutan yang memetik penasaran dalam batinku. 


Aroma khas hutan dengan lembabnya udara menyentuh kulit. Pandanganku seakan terkunci kepada sebuah pohon berbatang besar dan tinggi. Pohon itu terletak di seberang sungai. Dengan bantuan bebatuan yang berjejer di sungai, aku pun menyeberang. Kudekati pohon itu. Tapak kakiku terus bergerak ke arah pohon hingga akhirnya tapak kakiku tak lagi menyentuh tanah. Aku berlevitasi secara berangsur-angsur dan tiba di depannya dalam kondisi melayang. Kualihkan pandangan ke bawah, tampak beberapa ular yang bergerak ke sana kemari. Tiba-tiba, aku mendengar suara, apakah dari pohon ini atau dari batinku sendiri. Terjadi dialog cukup panjang mengenai Nabi Muhammad SAW yang pada kesimpulannya menegaskan agar aku tetap teguh pada sunnah Rasulullah. Segera setelahnya aku melayang turun pada sebuah batu yang terletak di tengah sungai. Tiba-tiba air sungai bergejolak dan menggelombangkan jembatan gantung yang terletak cukup dekat dengan permukaan sungai tak jauh dariku. Hawa dingin dan deru deburan air menghiasi sekelilingku. Aku segera melayang kembali ke udara. Aku melayang ke sana kemari hingga sampai di sebuah puncak pohon. Aku pun melayang kembali dan tiba di suatu gedung tinggi dengan pintu teratasnya sedang terbuka. 


Aku segera masuk. Betapa terkejutnya aku melihat apa yang ada di depan mataku. Mayat-mayat manusia berjejer dalam kondisi berdiri tegak, tertutup kain putih tapi tak seluruh badan. Dengan segera aku berbalik dan melayang turun menuju pintu yang ada di bawah. Tak lama setelah aku masuk, tiba-tiba pintu terkunci. Di hadapanku tampak ramai lelaki dan perempuan berlalu lalang yang secara zahir seperti manusia, namun berpenampilan seperti hewan, seakan-akan mayat yang kulihat sebelumnya lebih beretika daripada mereka. Aku pun refleks menutup mata dengan tangan kananku dan melangkah ke depan menemui salah seorang dari mereka sementara mereka seperti sedang melakukan eksperimen yang tak kuketahui. 

"Mohon maaf, sepertinya saya salah tempat. Pintu keluar di mana ya?" tanyaku. 

"Pintu keluar? Oh lewat sini!" sahut salah seorang lelaki yang dapat kuintip dari celah jariku. 

Aku mengikuti mereka sampai di sebuah ruangan yang hanya dibatasi oleh kaca bening. Tiba-tiba intuisiku berbisik bahwa ada yang tak beres, selanjutnya aku pun terdiam di tempat dan menolak untuk masuk lebih jauh. 

"Ini akan diletakkan di perutmu!"

Salah seorang perempuan tanpa etika itu memegang alat aneh semacam setrika ke arahku. Aku pun segera mundur. Di belakangku, beberapa orang tadi mencoba untuk mengepungku. Aku segera memfokuskan diri ke dalam hatiku dan kujadikan shield di antara aku dan mereka. Mereka yang mengepungku pun langsung menjauh. Dengan kesempatan ini, aku segera berlari menjauh menelusuri lorong-lorong dengan mereka-mereka yang terus mengejar di belakang. 

Tangga darurat di mana?

Tak dapat kujumpai ruang tangga darurat. Aku pun tersudut di ujung lorong dengan jejeran jendela yang terhubung ke dunia luar. Salah satu jendelanya terbuka. Kupandang keluar, beberapa meter di bawah jendela terdapat balkon yang merupakan bagian dari bangunan ini. Tanpa pikir panjang, aku langsung melompat keluar dan mendarat perlahan di atasnya. Selanjutnya aku berlari menuju sisi balkon yang melebar ke ujung kiri bangunan. 


Dorrr!

Suara tembakan menyapa telingaku. Aku tak melihat siapa yang melakukan itu tapi yang kuyakini tembakan itu menyasar diriku. Tiba-tiba dari sisi ujung balkon keluar seorang lelaki dengan menyandang senapan. Aku pun segera menjatuhkan diri dengan melayang perlahan menuju balkon yang ada di bawah. Suara tembakan berkali-kali terdengar dan kali ini tampak peluru berjatuhan bak hujan dari balkon atas. Dia menembak ke bawah! Langsung saja aku menjatuhkan diri kembali dengan melayang perlahan dan tiba di permukaan tanah. Aku berlari menjauh dan segera masuk kembali ke dalam bangunan melalui pintu yang berada tak jauh dariku.


Ruangan yang kumasuki ini tampak megah dan mewah, bisa dibilang semacam hotel meski aku tidak tahu fungsi sebenarnya bangunan ini apa. 

Dorrr!

Suara tembakan terdengar kembali. Kupandang ke belakang dan ternyata lelaki tadi telah mendekat ke arahku. Aku segera berlari dan menyusuri ruang demi ruang. 


Seketika aku pun tersadar, mengapa aku harus lari? Dengan bismillah aku memperlambat lariku dan berbalik ke belakang. Lelaki bersandang senapan itu tiba beberapa meter di hadapanku. Aku segera mengarahkan tangan kananku ke benda-benda sekitar dan langsung mengarahkannya ke lelaki itu, sontak benda-benda sekitarku pun terlempar ke arahnya. Aku mundur perlahan dan melemparkan semua benda di sekitarku tanpa kusentuh, hanya dengan bismillah dan kekuatan hati. Aku kembali menyeberang ke ruangan lain dengan melewati pintu kaca. Tatkala lelaki itu tiba di pintu kaca, kuarahkan tangan kananku ke pintu itu dan segera setelahnya pintu itu retak dan pecah. Aku pun mengarahkan pecahan kaca itu agar mengitari dia dan selanjutnya kukepalkan tangan kananku. Sembari tangan kananku terkepal, pecahan kaca yang mengitari lelaki itu langsung menghujam tubuhnya. Dia akhirnya terjatuh. 


Dari arah ruangan berbeda, hadir seorang lelaki paruh baya. Dari sorot matanya dapat kuketahui bahwa ia ingin melukaiku. Ia melemparkan beberapa benda logam kerucut ke arahku. Tatkala benda-benda itu terlempar, aku pun langsung mengarahkan telapak tangan kananku dan membentuk niat untuk membalikkan benda-benda itu ke arahnya dan akhirnya benda itu berbalik dan menusuk dirinya sendiri melalui kaki kanannya. 


Aku segera melangkah mundur perlahan, perasaanku mengatakan bahwa masih banyak orang yang memburuku di dalam bangunan ini. Setelah aku tiba di luar bangunan, aku pun langsung membentangkan kedua tanganku dengan tangan kiri ke arah sisi kiri bangunan dan tangan kanan ke arah sebaliknya. 

"Allahu Akbar!"

Kudekatkan kedua tanganku mengisyaratkan meruntuhkan sesuatu. Segera setelahnya bangunan itu retak, roboh, dan ambruk, melepaskan debu-debu ke udara.


Semuanya berakhir. Orang-orang aneh berpenampilan tak semestinya, orang-orang yang memburuku, dan segala perkara aneh lainnya hancur dan remuk bersama bangunan yang hancur itu. Aku pun merasa terlepas dari semacam sesuatu yang selama ini menghantuiku. Namun, tetap saja aku masih merasa ada sesuatu yang belum terungkap saat ini... dan mungkin juga nanti. Wallahu a'lam.


Post a Comment